Selasa, 18 November 2008

A.U.T.I.S !

Autisme diklasifikasikan sebagai ketidaknormalan perkembangan neuro yang menyebabkan interaksi sosial yang tidak normal, kemampuan komunikasi, pola kesukaan, dan pola sikap. Autisme bisa terdeteksi pada anak berumur paling sedikit 1 tahun. Autisme empat kali lebih banyak menyerang anak laki-laki dari pada anak perempuan.

Tanda - tanda Autisme

* - tidak bisa menguasai atau sangat lamban dalam penguasaan bahasa sehari-hari
* - hanya bisa mengulang-ulang beberapa kata
* - mata yang tidak jernih atau tidak bersinar
* - tidak suka atau tidak bisa atau atau tidak mau melihat mata orang lain
* - hanya suka akan mainannya sendiri (kebanyakan hanya satu mainan itu saja yang dia mainkan)
* - serasa dia punya dunianya sendiri
* - tidak suka berbicara dengan orang lain
* - tidak suka atau tidak bisa menggoda orang lain

Penyebab Autisme Penyebab Autisme sampai sekarang belum dapat ditemukan dengan pasti. Banyak sekali pendapat yang bertentangan antara ahli yang satu dengan yang lainnya mengenai hal ini. Ada pendapat yang mengatakan bahwa terlalu banyak vaksin Hepatitis B yang termasuk dalam MMR (Mumps, Measles dan Rubella )bisa berakibat anak mengidap penyakit autisme. Hal ini dikarenakan vaksin ini mengandung zat pengawet Thimerosal, yang terdiri dari Etilmerkuri yang menjadi penyebab utama sindrom Autisme Spectrum Disorder. Tapi hal ini masih diperdebatkan oleh para ahli. Hal ini berdebatkan karena tidak adanya bukti yang kuat bahwa imunisasi ini penyebab dari autisme, tetapi imunisasi ini diperkirakan ada hubungannya dengan Autisme.
Penyebab autis belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli menyebutkan autis disebabkan karena multifaktorial. Beberapa peneliti mengungkapkan terdapat gangguan biokimia, ahli lain berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh gangguan psikiatri/jiwa. Ahli lainnya berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh karena kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autis.baca selengkapnya…

Beberapa teori yang didasari beberapa penelitian ilmiah telah dikemukakan untuk mencari penyebab dan proses terjadinya autis. Beberapa teori penyebab autis adalah : teori kelebihan Opioid, teori Gulten-Casein (celiac), Genetik (heriditer), teori kolokistokinin, teori oksitosin Dan Vasopressin, teori metilation, teori Imunitas, teori Autoimun dan Alergi makanan, teori Zat darah penyerang kuman ke Myelin Protein Basis dasar, teori Infeksi karena virus Vaksinasi, teori Sekretin, teori kelainan saluran cerna (Hipermeabilitas Intestinal/Leaky Gut), teori paparan Aspartame, teori kekurangan Vitamin, mineral nutrisi tertentu dan teori orphanin Protein: Orphanin.

Walaupun paparan logam berat (air raksa) terjadi pada setiap anak, namun hanya sebagian kecil saja yang mengalami gejala autism. Hal ini mungkin berkaitan dengan teori genetik, salah satunya berkaitan dengan teori Metalotionin. Beberapa penelitian anak autism tampaknya didapatkan ditemukan adanya gangguan netabolisme metalotionin. Metalotionon adalah merupakan sistem yang utama yang dimiliki oleh tubuh dalam mendetoksifikasi air raksa, timbal dan logam berat lainnya. Setiap logam berat memiliki afinitas yang berbeda terhada metalotionin. Berdasarkan afinitas tersebut air raksa memiliki afinitas yang paling kuar dengan terhadam metalotianin dibandingkan logam berat lainnya seperti tenbaga, perak atau zinc.

Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilaporkan para ahli menunjukkan bahwa gangguan metalotianin disebabkan oleh beberapa hal di antaranya adalah : defisiensi Zinc, jumlah logam berat yang berlebihan, defisiensi sistein, malfungsi regulasi element Logam dan kelainan genetik, antara lain pada gen pembentuk netalotianin

Perdebatan yang terjadi akhir akhir ini berkisar pada kemungkinan penyebab autis yang disebabkan oleh vaksinasi anak. Peneliti dari Inggris Andrew Wakefield, Bernard Rimland dari Amerika mengadakan penelitian mengenai hubungan antara vaksinasi terutama MMR (measles, mumps rubella ) dan autisme. Banyak penelitian lainnya yang dilakukan dengan populasi yang lebih besar dan luas memastikan bahwa imunisasi MMR tidak menyebabkan Autis. Beberapa orang tua anak penyandang autisme tidak puas dengan bantahan tersebut. Bahkan Jeane Smith seorang warga negara Amerika bersaksi didepan kongres Amerika : kelainan autis dinegeri ini sudah menjadi epidemi, dia dan banyak orang tua anak penderta autisme percaya bahwa anak mereka yang terkena autis disebabkan oleh reaksi dari vaksinasi.

Penelitian dalam jumlah besar dan luas tentunya lebih bisa dipercaya dibandingkan laporan beberapa kasus yang jumlahnya relatif tidak bermakna secara umum. Namun penelitian secara khusus pada penyandang autis, memang menunjukkan hubungan tersebut meskipun bukan merupakan sebab akibat..

Banyak pula ahli melakukan penelitian dan menyatakan bahwa bibit autis telah ada jauh hari sebelum bayi dilahirkan bahkan sebelum vaksinasi dilakukan. Kelainan ini dikonfirmasikan dalam hasil pengamatan beberapa keluarga melalui gen autisme. Patricia Rodier, ahli embrio dari Amerika bahwa korelasi antara autisme dan cacat lahir yang disebabkan oleh thalidomide menyimpulkan bahwa kerusakan jaringan otak dapat terjadi paling awal 20 hari pada saat pembentukan janin. Peneliti lainnya, Minshew menemukan bahwa pada anak yang terkena autisme bagian otak yang mengendalikan pusat memory dan emosi menjadi lebih kecil dari pada anak normal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gangguan perkembangan otak telah terjadi pada semester ketiga saat kehamilan atau pada saat kelahiran bayi.

Karin Nelson, ahli neorology Amerika mengadakan menyelidiki terhadap protein otak dari contoh darah bayi yang baru lahir. Empat sampel protein dari bayi normal mempunyai kadar protein yang kecil tetapi empat sampel berikutnya mempunyai kadar protein tinggi yang kemudian ditemukan bahwa bayi dengan kadar protein otak tinggi ini berkembang menjadi autis dan keterbelakangan mental. Nelson menyimpulkan autisme terjadi sebelum kelahiran bayi.

Saat ini, para pakar kesehatan di negara besar semakin menaruh perhatian terhadap kelainan autis pada anak. Sehingga penelitian terhadap autism semakin pesat dan berkembang. Sebelumnya, kelainan autis hanya dianggap sebagai akibat dari perlakuan orang tua yang otoriter terhadap anaknya. Kemajuan teknologi memungkinkan untuk melakukan penelitian mengenai penyebab autis secara genetik, neuroimunologi dan metabolik. Pada bulan Mei 2000 para peneliti di Amerika menemukan adanya tumpukan protein didalam otak bayi yang baru lahir yang kemudian bayi tersebut berkembang menjadi anak autisme. Temuan ini mungkin dapat menjadi kunci dalam menemukan penyebab utama autis sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahannya.

DIarsipkan di bawah: autisme

Teknologi Perang bhu *

Teknologi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Teknologi atau pertukangan memiliki lebih dari satu definisi. Salah satunya adalah pengembangan dan aplikasi dari alat, mesin, material dan proses yang menolong manusia menyelesaikan masalahnya. Sebagai aktivitas manusia, teknologi mulai sebelum sains dan teknik.
Kata teknologi sering menggambarkan penemuan dan alat yang menggunakan prinsip dan proses penemuan saintifik yang baru ditemukan. Akan tetapi, penemuan yang sangat lama seperti roda dapat disebut teknologi.
Definisi lainnya (digunakan dalam ekonomi) adalah teknologi dilihat dari status pengetahuan kita yang sekarang dalam bagaimana menggabungkan sumber daya untuk memproduksi produk yang diinginkan( dan pengetahuan kita tentang apa yang bisa diproduksi). Oleh karena itu, kita dapat melihat perubahan teknologi pada saat pengetahuan teknik kita meningkat.


Perang Dunia I
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Perang Dunia I (juga dinamakan Perang Dunia Pertama, dan nama dalam bahasa Inggris lainnya: Great War, War of the Nations, dan "War to End All Wars" (Perang untuk Mengakhiri Semua Perang) adalah sebuah konflik dunia yang berlangsung dari 1914 hingga 1918.
Perang ini dimulai setelah Pangeran Ferdinand dari Austro-Hongaria (sekarang Austria) dibunuh anggota kelompok teroris Serbia, Gavrilo Princip di Sarajevo. Tidak pernah terjadi sebelumnya konflik sebesar ini, baik dari jumlah tentara yang dikerahkan dan dilibatkan, maupun jumlah korbannya. Senjata kimia digunakan untuk pertama kalinya, pemboman massal warga sipil dari udara dilakukan, dan banyak dari pembunuhan massal berskala besar pertama abad ini berlangsung saat perang ini. Empat dinasti, Habsburg, Romanov, Ottoman dan Hohenzollern, yang mempunyai akar kekuasaan hingga zaman Perang Salib, seluruhnya jatuh setelah perang.
Perang Dunia I menjadi saat pecahnya orde dunia lama, menandai berakhirnya monarki absolutisme di Eropa. Ia juga menjadi pemicu Revolusi Rusia, yang akan menginspirasi revolusi lainnya di negara lainnya seperti Tiongkok dan Kuba, dan akan menjadi basis bagi Perang Dingin antara Uni Soviet dan AS. Kekalahan Jerman dalam perang ini dan kegagalan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang masih menggantung yang telah menjadi sebab terjadinya Perang Dunia I akan menjadi dasar kebangkitan Nazi, dan dengan itu pecahnya Perang Dunia II pada 1939. Ia juga menjadi dasar bagi peperangan bentuk baru yang sangat bergantung kepada teknologi, dan akan melibatkan non-militer dalam perang seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Perang Dunia menjadi terkenal dengan peperangan parit perlindungannya, di mana sejumlah besar tentara dibatasi geraknya di parit-parit perlindungan dan hanya bisa bergerak sedikit karena pertahanan yang ketat. Ini terjadi khususnya terhadap Front Barat. Lebih dari 9 juta jiwa meninggal di medan perang, dan hampir sebanyak itu juga jumlah warga sipil yang meninggal akibat kekurangan makanan, kelaparan, pembunuhan massal, dan terlibat secara tak sengaja dalam suatu pertempuran.
Perang Dunia II
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Perang Dunia II, secara resmi mulai berkecamuk pada tanggal 1 September 1939 sampai tanggal 14 Agustus 1945. Meskipun demikian ada yang berpendapat bahwa perang sebenarnya sudah dimulai lebih awal, yaitu pada tanggal 1 Maret 1937 ketika Jepang menduduki Manchuria. Sampai saat ini, perang ini adalah perang yang paling dahsyat pernah terjadi di muka bumi. Kurang lebih 50.000.000 (lima puluh juta) orang tewas dalam konflik ini.
Umumnya dapat dikatakan bahwa peperangan dimulai pada saat pendudukan Jerman di Polandia pada tanggal 1 September 1939, dan berakhir pada tanggal 14 atau 15 Agustus 1945 pada saat Jepang menyerah kepada tentara Amerika Serikat.
Perang Dunia II berkecamuk di tiga benua tua; yaitu Afrika, Asia dan Eropa. Berikut ialah data pertempuran-pertempuran dan peristiwa penting di setiap benua.


Bell 412
Bell 412 adalah sebuah helikopter serbaguna yang diproduksi oleh Bell Helicopter Textron. Helikopter ini adalah pengembangan dari model Bell 212, perbedaan utamanya terletak pada 4 bilah rotor utama komposit.
Bell 412 yang diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia dinamakan NBell 412.
NDL-40
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
NDL-40 (LAU 97) adalah senjata artileri medan berupa peluncur roket yang diproduksi oleh IPTN (sekarang PT.DI) dari Indonesia. Senjata ini menggunakan roket diameter 70mm atau 2,75 inchi sebagai pelurunya. Biasanya roket ini menggunakan peluru , roket sistem multi luncur FFAR 2.75" yang diproduksi secara lisensi oleh IPTN.
NDL-40 bisa meluncurkan 40 roket dari 40 tabung luncurnya secara salvo dengan selang 0,1 sampai 9,9 detik untuk tiap roketnya. Dengan kemampuan ini NDL-40 mampu meluluh-lantakan sebuah daerah seluas 200m x 300m dalam sekejab. Jangkauan terjauh dari senjata ini hanya 6 km walaupun dengan roket khusus jangkauan bisa ditambah menjadi 8 km.
Terkait:
• NPU-70 (Nusantara Poly Urethene - 70mm)


OLEH : ANDI WIDJAJANTO
MEREVISI SISTEM PERSENJATAA INDONESIA
28 Nov 2005
Pencabutan embargo militer oleh Amerika Serikat (AS) memunculkan kembali pertanyaan tentang pengembangan sistem persenjataan Indonesia. Sejak embargo diterapkan AS, Indonesia telah berupaya untuk melakukan diversifikasi sistem persenjataannya. Posisi akhir sistem persenjataan Indonesia di tahun 2004 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki 173 jenis sistem persenjataan yang bersumber dari 17 negara produsen. Lima peringkat terbesar untuk sumber persenjataan Indonesia adalah Amerika Serikat (34%), Prancis (12%), Jerman (12%), Rusia (10%), dan Inggris (9%). Industri strategis demestik Indonesia hanya mempu memberikan kontribusi sebesar 5% dari seluruh jenis sistem persenjataan yang dimiliki oleh TNI.

Untuk periode 1999-2004, Indonesia memesan 21 jenis senjata dari delapan Negara produsen senjata dengan nilai impor senjata sebesar US$ 796 juta. Dari delapan Negara produsen ini, Rusia menjadi pemasok senjata terbesar US$ 274 juta, diikuti oleh Inggris (US$ 226 juta), Prancis (US$ 121 juta), Jerman (US$ 74 juta), Amerika Serikat (US$ 29 juta), dan Belanda (US$ 21 juta). Pemesanan tersebut sebagian besar dilakukan untuk melengkapi kebutuhan Angkatan Udara. Penambahan sistem persenjataan terjadi untuk beberapa jenis alutsista seperti helicopter jenis MI-35, helicopter NBO-105C, tank amfibi PT-76, kendaraan APC BTR-50P, serta pesawat tempur jenis Su-27SK, dan Su-MKI.

Diversifikasi persenjataan tersebut menimbulkan persoalan serius untuk sistem pengelolaan persenjataan Departemen Pertahanan. Keberadaan 173 jenis sistem persenjataan tentunya memperbesar biaya operasional, dan perawatan. Untuk sistem persenjataan jenis pesawat tempur, misalnya Indonesia, memiliki 87 pesawat tempur yang berasal dari tiga Negara, yaitu AS (34 pesawat), Inggris (49 pesawat), serta Rusia (4 pesawat). Sebanyak 87 pesawat tempur tersebut terdiri dari 8 jenis pesawat tempar F-16A Fighting Falcon, F-5E Tiger, Hawk Mk.209, Hawk Mk 53, A-4 E Skyhawk CAS, OV-10F Bronco Coin, Su-27SK, dan SU-30 MKI. Keberadaan 8 jenis pesawat tempur tersebut tentunya meningkatkan secara signifikan biaya-biaya operasional dan perawatan yang tergabung dalam biaya program pengadaan materiil.

Beban anggaran ini bisa dikurangi jika Departemen Pertahanan menginisiasi program efisiensi sistem persenjataan serta inovasi strategi pembelian senjata.

Efisiensi sistem persenjataan bisa dilakukan melalui tiga strategi. Pertama, diversifikasi jenis persenjataan dikurangi untuk menciptakan satu kerangka sistem persenjataan terpadu. Hal ini, misalnya, telah dilakukan AS dengan pengembangan pesawat tempur F35-JSF yang akan menggantikan seluruh jenis pesawat tempur yang dimilikinya.

Kedua, variasi sumber Negara produsen dikurangi untuk mendukung terciptanya sistem persenjataan terpadu. Hal ini tidak berarti Indonesia akan sepenuhnya bergantung ke satu Negara produsen namun bisa mencari satu kelompok Negara yang bekerjasama mengembangkan suatu teknologi persenjataan. Kerjasama tersebut, misalnya, tampak dari perusahaan-perusahaan Rusia yang membentuk kerjasama internasional dengan Prancis. Sistem elektronik dan evionik Prancis telah dipakai untuk pesawat tempur Su-30MKM yang dipesan oleh Malaysia. Sistem yang dikembangkan Prancis dan Israel juga telah digunakan pada pesawat tempur Su-30MKI yang dipesan India.

Ketiga, program pengembangan senjata yang semula diarahkan untuk program arms maintenance digeser menjadi program arms disposal dan arms buil-up. Program arms disposal harus dilakukan untuk mengurangi secara signifikan persenjataan yang tidak sesuai dengan rencana pengembangan sistem persenjataan dan juga persenjataan yang sudah jauh melampaui usia pakai. Program arms build-up dilakukan untuk mengisi kekosongan sistem persenjataan karena program arms disposal dan sekaligus memperkuat elemen postur pertahanan.

Inovasi sistem pembelian senjata diperlukan untuk memodifikasi pola akuisisi persenjataan Indonesia. Menurut Makmur Keliat (2005), dalam tiga dasawarsa terakhir Indonesia menghadapi tiga pola yang berbeda dalam melakukan akuisisi persenjataan. Pola pertama memiliki dua cirri, tidak adanya hambatan anggaran Negara yang signifikan dan hubungan yang sangat baik antara pemerintah Indonesia dan para produsen senjata utama internasional yang berasal dari Negara-negara maju. Pola ini umumnya terjadi ketika Indonesia mengalami tingkat pertumbuhan ekonomi nasional yang cukup baik sepanjang tahun 1980-an.

Pola kedua ditandai oleh tidak adanya hambatan anggaran Negara yang, signifikan dan disertai tekanan politik dari Negara-negara maju, terutama dari AS dan Uni Eropa. Pola ini yang muncul setelah peristiwa Timor Timur I, 1991 dan terus berlangsung hingga krisis financial 1998 yang kemudian diperparah dengan embargo pasca peristiwa Timor Timur 1999 telah menyulitkan Indonesia untuk melakukan akuisisi karena embargo persenjataan oleh Negara-negara maju itu.

Pola ketiga ditandai oleh adanya kendala keuangan yang sangat serius yang dihadapi pemerintah dan tekanan politik yang msih terus diberlakukan oleh Negara-negara pemasok utama persenjataan internasional. Pola ketiga ini, yang mulai muncul sejak terjadinya krisis financial 1997, telah memaksa pemerintah untuk mengandalkan mekanisme pendanaan kredit ekspor untuk memenuhi kebutuhan persenjataan Indonesia. Penggunaan fasilitas kredit ekspor untuk akuisisi persenjataan memberikan beban tambahan kepada keuangan Negara terutama karena fasilitas kredit ekspor merupakan bentuk utang luar negeri yang memiliki tingkat suku bunga sangat tinggi, dengan waktu pengembalian yang sangat cepat.

Salah satu cara untuk melakukan inovasi sistem pembelian senjata adalah strategi offset. Pengertian ofset pada dasarnya mengacu pada pembelian atau investasi timbal balik yang disepakati oleh pemasok senjata sebagai imbalan dari kesepakatan yang dilakukan. Ada dua tipe ofset yang bisa diminta oleh Indonesia, yaitu licensed production dan co-production. Jika licensed production dipergunakan, Indonesia meminta Negara produsen untuk mentransfer teknologi kepada Indonesia sehingga sebagian dari kegiatan untuk memproduksi sistem persenjataan yang sedang dipesan itu dapat dilakukan di Indonesia. Jika co-production yang dipilih, Indonesia tidak hanya terlibat dalam kegiatan menghasilkan komponen peralatan militer yang tengah dipesan, tetapi juga terlibat untuk menghasilkan peralatan militer yang sama untuk memenuhi pesanan dari Negara produsen maupun memenuhi pesanan pasar internasional.

Bagi Indonesia, inovasi sistem pembelian senjata dilakukan untuk setidaknya mengurangi beban devisa dan efek-efeknya pada neraca pembayaran, serta menstimulasi perkembangan industri pertahanan domestic. Inovasi tersebut harus menjadi bagian dari mekanisme transisi pendanaan pengadaan persenjataan.

Mekanisme transisi ini harus secara komprehensif melihat korelasi antara rencana strategis pertahanan dan program pengembangan postur pertahanan. Alokasi anggaran penelitian dan pengembangan pertahanan, dan alokasi sumber daya untuk industri strategis pertahanan serta keberadaan sumber-sumber pendanaan luar negeri. Mekanisme transisi ini harus dapat secara jelas menjabarkan trajektori jangka menengah panjang yang secara gradual meningkatkan efisien dan kemandirian sistem persenjataan Indonesia.
Indonesia Fokuskan Kesetaraan Teknologi Pertahanan


Jakarta (ANTARA News) - Menteri Pertahanan (Menhan) Juwono Sudarsono mengatakan, Indonesia akan memfokuskan diri pada peningkatan kesetaraan teknologi pertahanan dibandingkan menambahkan jumlah alat utama sistem senjata (alutsista) menyusul turunnya anggaran pertahanan pada Tahun Anggaran (TA) 2009.

"Jadi, kita tidak akan fokus pada berapa pesawat tempur yang kita punya. Kita akan fokuskan pada peningkatan teknologi persenjataannya. Kalau Malaysia punya F18 Hornet, maka kita saingi kecanggihannya dengan Sukhoi dan sebagainya," katanya, di Jakarta Selasa.

Ditemui usai menjadi pembicara dalam seminar "Lingkungan Strategis 2008-2018 Implikasinya bagi Pertahanan Indonesia", Juwono menegaskan, bisa memahami langkah pemerintah yang lebih memprioritaskan pembangunan kesejahteraan rakyat dan pertumbuhan ekonomi sebagai upaya pengentasan kemiskinan.

Departemen Pertahanan dan Mabes TNI, katanya, tidak berkecil hati atas penurunan anggaran pertahanan dari Rp36,39 triliun pada APBN 2008 menjadi Rp35 triliun dalam RAPBN 2009 mengingat dua institusi itu telah terbiasa dihadapkan pada situasi dan kondisi minimum.

Oleh karena itu, Departemen Pertahanan dan Mabes TNI tidak akan melakukan revisi kecuali melanjutkan hingga masanya selesai secara efektif dan efisien.

Juwono menambahkan, jika pemerintah menambah jumlah alutsista maka hal itu sangat tergantung pada anggaran yang dimiliki sedangkan kondisinya saat ini sangat tidak dapat dimungkinkan.

Kalaupun Indonesia bisa membeli tambahan satu atau dua pesawat tempur, maka hal itu belum akan bisa menyaingi Jepang atau Korea Selatan. Yang bisa dilakukan adalah kerja sama, alih teknologi hingga persenjataan yang dimiliki Indonesia tidak tertinggal mesti jumlahnya lebih sedikit, demikian Juwono. (*)
COPYRIGHT © 2008
Kabarnya Angkatan Udara Indonesia (AURI) pernah mencicipi kecanggihan perang elektronika dengan angkatan perang Amerika Serikat, yakni pada bulan Juli 2003 di atas perairan Bawean, dua pesawat tempur AS F-18 Hornet menghadang dua pesawat tempur TNI-AU F-16, dalam insiden tersebut kedua Hornet AS sempat akan menembak jatuh kedua F-16 TNI-AU. dimana pesawat AS sudah berhasil melock/mengunci target pesawat TNI tinggal menembak saja, beruntunglah F-16 berhasil menghindar dengan melakukan manuver diantaranya manuver rocking the wing(menggerak-gerakkan sayap) merupakan isyarat international tanda perdamaian, dimana sebelumnya juga pesawat AS melakukan serangan Jamming namun berhasil dicounter pesawat kita.
Penulis juga sempat dicurhati mantan tentara TNI-AL, beliau pernah melakukan latihan bersama dengan tentara AS, waktu itu tentara Adidaya berhasil membungkam jalur komunikasi tentara kita dengan melakukan Jamming radio wireless komunikasi, akibatnya unit intelijen tentara kita tidak bisa berkomunikasi dengan satuan tempurnya, lalu sekonyong-konyong tentara AS sudah mengepung tentara kita,............. " ya matilah kita", ujar beliau tersebut.
Kalau saya mau jujur ya, menengok konflik militer Indonesia-Malaysia kemarin di blok Ambalat, laut Sulawesi, misal terjadi perang betulan antara Indonesia-Malaysia, mungkin Indonesia akan kewalahan, mengingat perangkat teknologi militer Malaysia jauh lebih baik, diantaranya dilengkapi 8 pesawat F-18 Hornet serta 18 Mig 29 Fulcrum, lalu tidak ketinggalan pelatan tempur daratnya juga tidak kalah ketinggalan canggihnya seperti 300 tank tempur utama (T-72, T90, dan T-80 (Rusia); Mk3M (Inggris) Leopard IA5 (Jerman), dan K1A1 (Korea Selatan), tentunya diperkuat pula oleh sistem pertahanan Rudalnya yang kesohor ampuh itu.
Apalagi Doktrin pertahanan Malaysia semenjak tahun 1996 mulai berubah, dari Tentara Diraja Malaysia yang berorientasi ke Counter-Guerillia dan Counter Insurgencia ke arah pembentukan Tentara Malaysia Modern.
Disamping itu secara historis Malaysia, Singapura, Australia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat tergabung dalam Pakta Pertahanan ANZUS, dimana salah satu aturan sebuah pakta pertahanan, jika salah satu negara terancam militer oleh negara lain maka negara-negara yang tergabung dalam Pakta Pertahanan tersebut akan bahu-membahu membantunya, meski Malaysia tidak dibantu tentara dari ANZUS, namun dia bisa memaanfaatkan fasilitas militer milik ANZUS, misalnya saja Satelit Militernya AS atau pesawat AWACS, waduh kalau sudah kedua perangkat ini kepegang Malaysia, sudah gak tahu lagi dah................
Rumornya saja ketika presiden George Bush datang ke Indonesia beberapa saat yang lalu, perangkat seluler GSM ataupun CDMA lumpuh seluruh kota, akibat dari Jamming pesawat AWACS ini.
Namun beruntunglah saat ini Indonesia sudah memesan empat kapal perang Canggih jenis Corvette Sigma Class dari negeri Belanda, satu kapal sudah datang ke Indonesia bulan Agustus 2007 kemarin, KRI Diponegoro nama kapal TNI AL yang sudah datang ini kabarnya memiliki kapabilitas yang cukup bagus dalam menghadapi perang elektronika di masa mendatang. Seyogyanya Indonesia harus memiliki minimal 10 kapal perang jenis ini, sebagai matra pertahanan Laut Indonesia yang luas ini, bukannya menjual Indosat yang merupakan Aset Komunikasi terbesar ke pihak Singapura, akibatnya fatal menjual aset berharga ini ibarat memasukkan mata-mata asing ke Indonesia, ya siapa lagi yang jual kalo gak ulahnya para politisi busuk dan adventurir yang doyan uang.
TEKNOLOGI PERANG MALAYSIA
Oleh Tanto Yakobus

APALAGI yang hendak dibuat Malaysia terhadap kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)? Pembangunan helipad—tempat pendaratan helikopter militer Malaysia di Desa Tanjung Lokang Kalimantan Barat yang hanya berjarak tujuh meter dari titik batas negara, patut diwaspadai.

Pembangunan pangkalan helikopter itu bukan sekadar pelanggaran terhadap beberapa kesepakatan sebelumnya, dalam satu dekade terakhir, kita selalu dirugikan oleh ulah Malaysia, mulai dari cara mereka memperlakukan TKI/TKW kita yang katanya ilegal, dengan tidak manusiawi, hingga masalah illegal logging.
Rupanya negara kerajaan yang juga tetangga dekat Indonesia itu tidak puas mendapatkan Pulau Legitan dan Sipadan, kini mereka membangun helipad militer di kawasan perbatasan kedua negara, yakni di dekat Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) di Kabupaten Kapuas Hulu. Beberapa tahun lalu kita juga pernah bersitegang terkait pelanggaran di perairan Ambalat, Kalimantan Timur.
Helipad yang dibangun sekitar enam bulan lalu itu diduga kuat milik angkatan bersenjata atau militer Malaysia. Jaraknya dari patok batas kedua negara hanya tujuh meter saja. Artinya, dia hanya berjarak tujuh meter dari kawasan TNBK di Indonesia yang memang berada di kawasan perbatasan.
Helipad yang dibangun mirip pangkalan militer tersebut berada tepat di ujung Desa Tanjung Lokang, Kecamatan Kedamin, Kabupaten Kapuas Hulu.
Dari Putussibau—ibukota Kabupaten Kapuas Hulu, untuk menjangkau kawasan itu hanya bisa ditempuh lewat jalur sungai menggunakan speed boat. Bangsa kita yang hendak memasuki usia 64 tahun ini, kawasan itu baru bisa ditempuh menggunakan jalur sungai. Jalur darat yang diimpikan masyarakat untuk membuka isolasi daerah masih jauh dari harapan. Mungkin masih mimpi.
Negeri kita ini terlalu luas, maka daerah vital yang berbatasan langsung dengan Malaysia sungguh tidak tersentuh pembangunan. Perbatasan yang harusnya menjadi garda terdepan justru jadi beranda belakang republik ini. Malaysia betul-betul menjadi surga dunia bagi ekonomi masyarakat perbatasan. Barang murah, mencari kerja juga mudah. Sementara mereka menjarah kayu Indonesia di hutan kawasan perbatasan.
Bayangkan untuk mencapai Desa Tanjung Lokang di perbatasan itu, dari Kota Putussibau harus menempuh perjalanan selama tiga hari menggunakan speed boat lewat jalur Sungai Kapuas. Apalagi kalau dihitung dari ibukota provinsi, Kota Pontianak, maka jarak tempuhnya bisa satu minggu. Jarak tempuh Pontianak-Putussibau kurang lebih 600 kilometer. Kondisi jalan jelek seperti sekarang, perjalanan butuh waktu dua hari baru tiba di Putussibau, selanjutnya disambung dengan speed boat selama tiga hari baru sampai Tanjung Lokang.
Wajar kalau selama ini percurian kayu dengan menggunakan alat berat oleh warga Malaysia berjalan mulus, karena memang luput dari pantauan, baik aparat maupun masyarakat kita.
Pembangunan helipad itu sudah melanggar kesepakatan Indonesia-Malaysia yang tertuang dalam General Border Communittee (GBC) pada tahun 1971.
GBC Indonesia-Malaysia itu merupakan forum kerjasama perbatasan antara pemerintahan kedua negara. Di Indonesia, perwakilan di forum itu diketuai oleh panglima TNI. Kini jabatan ketua dipegang oleh Menteri Pertahanan RI, Juwono Sudarsono.
Forum ini sangat strategis, karena membahas isu dan permasalahan kedua negara yang meliputi masalah sosial, ekonomi dan pertahanan keamanan.
Sejak awal ada kesepakatan dalam forum itu menyangkut aktivitas sipil dan militer dalam radius dua kilometer dari titik batas harus ada pemberitahuan kepada negara tetangga. “Sementara helipad di perhuluan Tanjung Lokang itu jaraknya hanya tujuh meter, itu sudah pelanggaran,” tegas Sekretaris Komisi A DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Zainuddin Isman di Pontianak, Selasa (10/6) lalu.
Malaysia sudah melanggar kesepakatan GBC, karenanya, pemerintah Indonesia harus minta penjelasan kepada Malaysia terkait pembangunan helipad tersebut. Apalagi itu sudah masuk radius atau zona aman dua kilometer bagi kedua negara.

Mencuri atau Perang
Aktivitas pencurian kayu secara besar-besaran di kawasan perbatasan terutama di wilayah dua taman nasional di Kapuas Hulu yakni Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) dan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) berjalan mulus, karena selain didukung alat berat milik Malaysia, juga ada patroli udara yang dilakukan para cukong.
Makanya keberadaan helipad itu sangat strategis dalam hal mendukung operasional pencurian kayu yang melibatkan sekaligus memanfaatkan masyarakat Indonesia di perbatasan sebagai pekerjanya.
Patroli udara dengan helikopter tersebut untuk mencari kayu-kayu yang masih lebat. Patroli juga dilakukan untuk memonitor keberadaan pasukan Indonesia baik TNI Angkatan Darat muapun Kepolisian dan Dinas Kehutanan yang tergabung dalam operasi illegal logging.
Besar kemungkinan setiap pratroli yang dilakukan aparat keamanan Indonesia hasilnya selalu nihil, karena mereka mempunya alat yang lebih canggih untuk mengetahui kapan pratroli itu dilakukan. Kemungkiann patroli sudah bocor juga ada.
Selain helipad, kini ada temuan pembangunan jalan ilegal sepanjang 33,5 kilometer di sektor barat TNBK. “Helipad itu sengaja dibangun oleh sendikat pembalakan liar yang dibiayai cukong kayu Malaysia,” dugaan Zainuddin.
Dengan dibangunnya jalan selanjutnya ada helipad, jelas untuk mendukung upaya pencurian kayu di Indonesia yang sudah berlangsung lama. “Kalau tidak untuk mendukung kegiatan illegal logging, maka besar kemungkinan Malaysia sudah siap bila sewaktu-waktu perang dengan Indonesia. Mereka sudah siap dengan pertahanan di perbatasan,” kata politisi asal Kapuas Hulu itu.
Dan itu erat kaitannya dengan Askar Wataniah yang sempat menegangkan hubungan Indonesia-Malaysia beberapa waktu lalu. Soal Askar Wataniah atau angkatan yang mensenjatai rakyat sebagai pasukan bela negara itu bukan isapan jempol belaka. Itu benar adanya.
Bahkan saat heboh-hebohnya pemberitaan seputar Askar Wataniah, ada pengakuan salah seorang warga di Kabupaten Sintang, bahwa dirinya pernah tiga tahun menjadi Askar di Malaysia yang ditugaskan di kawasan perkebunan kepala sawit di perbatasan.
Malaysia selama empat bulan terakhir tercatat telah tiga kali melakukan pelanggaran wilayah udara di Kalbar yang berbatasan dengan Sarawak.
Panglima Kodam VI/Tanjungpura, Mayjend TNI Tono Suratman dalam Forum Komunikasi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) di Rektorat Universitas Tanjungpura di Pontianak, Sabtu (17/5) bulan lalu mengatakan, pelanggaran tersebut terjadi bulan Maret 2008 dalam tiga hari berturut-turut.
Pelanggaran pertama tanggal 6 Maret 2008 sekitar pukul 15.00 WIB. Anggota Pos Pengamanan Perbatasan (Pamtas) Gun Tembawang Batalyon Infanteri (Yonif) 641/Bru di Desa Suruh Tembawang, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau melihat sebuah helikopter jenis Bolco warna putih dan biru dengan senapan mesin (RPD) yang diperkirakan milik Polis Diraja Malaysia (PDRM) dengan penumpang empat orang melintas dari arah Barat ke Timur. Jarak terbang sekitar 150 meter dari Pos Pamtas Gun Tembawang.
Kemudian, pelanggaran kedua terjadi tanggal 7 Maret sekitar pukul 15.00 WIB. Helikopter yang sama melintas dari Selatan ke Utara tepat di atas Pos Pamtas Gun Tembawang dan mendarat di Kampung Gun Sapit, Padawan, Sarawak.
Pelanggaran ketiga terjadi tanggal 8 Maret 2008 sekitar pukul 10.55 WIB. Diduga helikopter yang sama melintas kembali dari Barat Daya ke Utara memutar dua kali.
Panjang perbatasan darat antara Indonesia - Malaysia mencapai 2.004 kilometer, terdiri dari Kalbar 857 kilometer dan Kaltim 1.147 kilometer.
Terdapat 5.784 patok batas di sepanjang perbatasan darat Kalbar - Malaysia. Namun, yang sudah dipatroli baru sebanyak 3.087 patok. "Sisanya belum," kata Tono Suratman.
Sebanyak 349 patok dinyatakan hilang, 53 rusak, empat patok patah dan dua patok tertimbun. Penyebabnya terutama faktor manusia seperti pencurian kayu menggunakan alat berat dan pengaruh alam akibat tanah longsor

Heart of Borneo
Pembangunan helipad hasil temuan patroli Polisi Kehutanan (Polhut) di kawasan TNBK, April lalu itu merupakan pukulan telak bagi pertahanan keamanan NKRI. Selain melanggar forum GBC, juga melanggar kesepakatan perjanjian sosial ekonomi Malaysia Indonesia (Sosek Malindo) tahun 1967.
Perjanjian Sosek Malindo itu sudah jelas tidak diperkenankan melakukan kegiatan sejauh dua kilometer dari patok batas kedua wilayah negara.
“Selain melanggar dua perjanjian itu, kita juta patut pertanyakan komitmen Malaysia terhadap kesepakatan Heart of Borneo (HoB) beberapa waktu lalu,” kata Kepala Badan Persiapan Pengelolaan Kawasan Khusus Perbatasan (BP2KKP) Kalimantan Barat, Nyoman Sudana.
HoB adalah forum yang beranggotakan Indonesia, Malayia dan Brunai Darussalam. Forum ini bersepakat menjaga kelestarian hutan di Kalimantan (Borneo).
Pertemuan yang digelar di Pontianak pada April lalu itu, untuk menindaklanjuti kesepakatan tentang sebuah kawasan konservasi seluas 22 juta hektar di tiga negara di Pulau Borneo. Penandatanganan kesepakatan dilakukan 12 Pebruari 2007 oleh Menteri Perindustrian dan Sumberdaya Utama Brunei Darussalam, Menteri Kehutanan RI dan Menteri Sumberdaya Alam dan Lingkungan Malaysia.
Letak HoB di kawasan pegunungan di "pusat" Borneo serta fungsinya yang amat penting mengidentikannya sebagai jantungnya Borneo. Terdapat 20 daerah aliran sungai (DAS) yang menjadi sumber kehidupan di Borneo, dan 14 diantaranya berada di kawasan HoB.
"HoB menjadi sumber mata air bagi 14 DAS. Dapat dibayangkan kalau kawasan itu rusak," kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalimantan Barat, Fathan A Rasyid.
Bila HoB rusak, maka ada sekitar 20 juta penduduk di Pulau Borneo ini akan terganggu. Sebab HoB tidak lagi mampu menjadi sumber air. Hal ini bakal terjadi jika laju kerusakan hutan di Borneo semakin tinggi, terutama di wilayah Indonesia.
Sebagian besar wilayah yang ditetapkan sebagai HoB memang berada di Indonesia, negara yang sempat diusulkan tercatat dalam rekor dunia karena laju kerusakan hutan begitu cepat.
Di Kalimantan Barat, terdapat empat juta hektar lahan yang masuk kesepakatan HoB. Terletak di tiga kabupaten, yakni Kapuas Hulu, Melawi dan Sintang. Ketiganya terletak di hulu Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia serta menjadi urat nadi kehidupan dan perekonomian masyarakat Kalimantan Barat.
Kata Fathan, siklus hidrologi saat ini sudah semakin singkat karena perubahan lingkungan. Sungai Kapuas salah satu contohnya. Lima tahun silam, intrusi air asin hanya mampu "menembus" beberapa kilometer setelah melewati Kota Pontianak. "Tetapi sekarang, intrusi air asin itu sudah mencapai Desa Korek, Kecamatan Ambawang, yang jaraknya belasan kilometer melalui Sungai Ambawang, pecahan Sungai Landak yang menginduk ke Sungai Kapuas," jelasnya.
Semakin berkurangnya hutan di hulu juga menyebabkan sedimentasi cepat terjadi di alur sungai. Dana pengerukan pun terus meningkat setiap tahunnya.
Kalau memang benar Malaysia membangun helipad untuk kepentingan mencuri kayu di perbatasan lewat tangan-tangan warga Negara Indonesia yang selama ini memang mengantungkan hidupnya dari kayu, maka perjanjian HoB itu hanya akal-akalan Malaysia untuk selalu menjatuhkan pamor Indonesia di dunia internasional. Harapan kita, semoga saja itu tidak terjadi dan kesepakatan tentang HoB benar-benar dilaksanakan. Yang enak, jelas masyarakat di negara kawasan maupun dunia internasional.□Foto by Jessica Waysang/Borneo Tribune.

Rabu, 12 November 2008

D. Agama dan Perilaku * nyuu !!

Sebagaimana dari pekerjaan berpengaruh awal terhadap hubungan antara agama dan pembangunan disajikan oleh Weber, yang mengusulkan bahwa pengendali terbesar dunia industri di Eropa dating dari katolik ortodok. Baru-baru ini vogel telah mengajukan pengendali besar untuk industrialisasi Asia Timur dalam beberapa tahun terakhir dimana perdaganagn dan perniagaan telah benar-benar berkembang dalam pusat tradisis Confucian ortodok.
Opini berbeda secara luas tentang peran agama bisa memainkan factor, baik yang positif atau negative, dalam pembangunan. Seperti Confucianism, banyak penulis mempertimbangkan ini sebagai kunci kepada pemahaman sukses ekonomi Asia Timur. Denagn begitu, di Singapura kesuksesan ekonomi dari orang-orang Cina disana menerangkan dalam kaitan dengan Confusianism, menekankan pada kualitas sebagaimana keyakinan kerja keras dan sikap baik pada orang tua. Cerminan Weber tahun 1958 argumentasi susila protestan untuk Eropa Barat pada awal revolusi industri. Itu adalah argumentasi bahwa Confucianisme menanamkan nilai seperti kerja keras, penghematan, pencapaian gol, kesetiaan keluarga, dll, yang menyiapkan orang untuk perilaku efektif di ekonomi pasar (Gourcvitch 198 : 1). Dan Downton meyakinkan masyarakat itu dengan Confucian-Buddhist yang mengakar terbukti lebih efektif dengan tantangan industri dan teknologi menjelang abad ke dua puluh satu dibandingkan …. Negara-negara itu dengan satu sebagian besar Kristen tradisi Hebraic (dikutip dalam Winchester 1991 : 61). Komentar serupa telah disampaikan tentang dunia muslim. (kotak 3.2). Di sisi lainnya, beberapa pandangan tampak mengabaikan dua fakta. Salah satunya adalah bahwa hanya empat puluh tahun yang lalu itu Confucianism secara luas dianggap sebagai satu factor penghalang menjelaskan kekurangan kemajuan ekonomi Asia Timur. Selain itu, diatas skala global, masyarakat dan ekonomi secara tepat ‘sebagian besar tradisi Christian Hebraic yang telah membuat sebagian besar kemajuan dalam menuju tantangan industri dan teknologi menjelang abad ke dua puluh satu.

Agama adalah prinsip kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan ajaran dan kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu. Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsanagan atau lingkungan.
Perilaku manusia dipengaruhi oleh agama. Agama juga berperan besar dalam perilaku positif atau negatif manusia. Seperti ajaran Confusianism (Kong Hu Cu), banyak yang beropini bahwa ini adalah kunci suksesnya ekonomi Asia Timur. Seperti contoh kesuksesan ekonomi di Singapura, yang terdiri dari banyak orang Cina yang mengacu pada ajaran Confusianism yang menekankan kerja keras, penghematan, dll.
Peta Agama di dunia

Ajaran Konfusianisme atau Kong Hu Cu (juga: Kong Fu Tze atau Konfusius) dalam bahasa Tionghoa, istilah aslinya adalah Rujiao (å„’æ•™) yang berarti agama dari orang-orang yang lembut hati, terpelajar dan berbudi luhur. Khonghucu memang bukanlah pencipta agama ini melainkan beliau hanya menyempurnakan agama yang sudah ada jauh sebelum kelahirannya seperti apa yang beliau sabdakan: "Aku bukanlah pencipta melainkan Aku suka akan ajaran-ajaran kuno tersebut". Meskipun orang kadang mengira bahwa Khonghucu adalah merupakan suatu pengajaran filsafat untuk meningkatkan moral dan menjaga etika manusia. Sebenarnya kalau orang mau memahami secara benar dan utuh tentang Ru Jiao atau Agama Khonghucu, maka orang akan tahu bahwa dalam agama Khonghucu (Ru Jiao) juga terdapat Ritual yang harus dilakukan oleh para penganutnya. Agama Khonghucu juga mengajarkan tentang bagaimana hubungan antar sesama manusia atau disebut "Ren Dao" dan bagaimana kita melakukan hubungan dengan Sang Khalik/Pencipta alam semesta (Tian Dao) yang disebut dengan istilah "Tian" atau "Shang Di".
Ajaran falsafah ini diasaskan oleh Kong Hu Cu yang dilahirkan pada tahun 551 SM Chiang Tsai yang saat itu berusia 17 tahun. Seorang yang bijak sejak masih kecil dan terkenal dengan penyebaran ilmu-ilmu baru ketika berumur 32 tahun, Kong Hu Cu banyak menulis buku-buku moral, sejarah, kesusasteraan dan falsafah yang banyak diikuti oleh penganut ajaran ini. Beliau meninggal dunia pada tahun 479 SM.
Konfusianisme mementingkan akhlak yang mulia dengan menjaga hubungan antara manusia di langit dengan manusia di bumi dengan baik. Penganutnya diajar supaya tetap mengingat nenek moyang seolah-olah roh mereka hadir di dunia ini. Ajaran ini merupakan susunan falsafah dan etika yang mengajar bagaimana manusia bertingkah laku.
Konfusius tidak menghalangi orang Tionghoa menyembah keramat dan penunggu tapi hanya yang patut disembah, bukan menyembah barang-barang keramat atau penunggu yang tidak patut disermbah, yang dipentingkan dalam ajarannya adalah bahwa setiap manusia perlu berusaha memperbaiki moral.
Ajaran ini dikembangkan oleh muridnya Mensius ke seluruh Tiongkok dengan beberapa perubahan. Kong Hu Cu disembah sebagai seorang dewa dan falsafahnya menjadi agama baru, meskipun dia sebenarnya adalah manusia biasa. Pengagungan yang luar biasa akan Kong Hu Cu telah mengubah falsafahnya menjadi sebuah agama dengan diadakannya perayaan-perayaan tertentu untuk mengenang Kong Hu Cu.
Setelah Confucius meninggal dunia pada tahun 479 SM, maka perkembangan ajaran Confucius diteruskan oleh murid-muridnya, yang seluruhnya berjumlah kurang lebih 3000 orang. Di antara mereka terdapat 72 murid utama yang paling menonjol, sehingga dijuluki ` 72 orang bijak '. Terdapat cukup banyak murid-muridnya tersebut yang memangku jabatan tinggi di pemerintahan. Golongan terpelajar yang mengikuti ajaran Confucius ini membentuk suatu aliran intelektual yang disebut " Ru Jia " (Golongan Terpelajar).
Faktor pendidikan dan pergaulan memegang peranan yang cukup penting juga khususnya dalam pembentukan karakter dan budi pekerti manusia. Hsun Zi berpandangan bahwa pada dasarnya sifat sejati manusia (Jen Sing) yang dibawa sejak lahir adalah buruk atau tidak baik adanya. Manusia belum
seluruhnya meninggalkan sifat-sifat buruk primitifnya. Manusia masih memiliki naluri yang kuat untuk makan bila lapar, minum bila haus, mencari tempat yang hangat bila kedinginan, beristirahat bila letih. Naluri-naluri tersebut mempunyai sifat buruk. Namun, sifat buruk tersebut dapat diubah
dengan pendidikan budi pekerti, sehingga manusia dapat berubah menjadi beradab dan baik. Demikian juga dengan pengetahuan mengenai kesusasteraan dan kesenian (musik) akan menghadirkan manusia-manusia yang dapat menghayati nilai kesejatian hidup ini. Walaupun demikian, Mencius dan Hsun Zi
sependapat, bahwa karakter dapat dibentuk melalui pendidikan. Oleh karena itu, menurut ajaran Confucius, nilai pendidikan bagi seseorang amatlah penting. Hal inilah yang mereka terapkan selama berabad-abad dalam rangka pembentukan karakter manusia.
Kesuksesan pengajaran Confucianisme pada masa dinasti Han terutama atas jasa dari Tung Chung-shu, yang pertama merekomendasikan sistim pendidikan harus dibina berdasarkan ajaran Confucius. Tung Chung-shu mempercayai bahwa kedekatan hubungan antara sifat sejati manusia dan alam; yakni perbuatan manusia dapat mempengaruhi berbagai fenomena di alam semesta. Segala bencana
alam dapat dipandang sebagai suatu peringatan terhadap manusia karena perbuatannya yang melanggar sila. Hal ini menciptakan ketakutan terhadap Yang Maha Kuasa dimana dengan kekuasaanNya, memiliki kekuatan yang tidak terbatas (omnipotent).
Analisis :
Tidak aada perbedaan antara keterangan yang ada di buku (translet) dengan referensi dari yang lainnya. Mereka sama-sama menerangkan ajaran Confusianism bahwa ajaran ini positif yang bisa mewujudkan kesuksesan ekonomi karena Confusianism mengajarkan sikap kerja keras, penghematan, lebih menekankan faktor pendidikan dan pergaulan. Mungkin tiu sisi positifnya. Sisi kekurangannya adalah bahwa empat puluh tahun yang lalu Confusianism secara luas dianggap sebagai suatu faktor penghalang kemajuan ekonomi di Asia Timur.

http://en.wikipedia.org/wiki/Image:Weltreligionen.png
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/1

Minggu, 09 November 2008

4. Agama dan Kode perilaku

Sebagaimana dari pekerjaan berpengaruh awal terhadap hubungan antara agama dan pembangunan disajikan oleh Weber, yang mengusulkan bahwa pengendali terbesar dunia industri di Eropa dating dari katolik ortodok. Baru-baru ini vogel telah mengajukan pengendali besar untuk industrialisasi Asia Timur dalam beberapa tahun terakhir dimana perdaganagn dan perniagaan telah benar-benar berkembang dalam pusat tradisis Confucian ortodok.

Opini berbeda secara luas tentang peran agama bisa memainkan factor, baik yang positif atau negative, dalam pembangunan. Seperti Confucianism, banyak penulis mempertimbangkan ini sebagai kunci kepada pemahaman sukses ekonomi Asia Timur. Denagn begitu, di Singapura kesuksesan ekonomi dari orang-orang Cina disana menerangkan dalam kaitan dengan Confusianism, menekankan pada kualitas sebagaimana keyakinan kerja keras dan sikap baik pada orang tua. Cerminan Weber tahun 1958 argumentasi susila protestan untuk Eropa Barat pada awal revolusi industri. Itu adalah argumentasi bahwa Confucianisme menanamkan nilai seperti kerja keras, penghematan, pencapaian gol, kesetiaan keluarga, dll, yang menyiapkan orang untuk perilaku efektif di ekonomi pasar (Gourcvitch 198 : 1). Dan Downton meyakinkan masyarakat itu dengan Confucian-Buddhist yang mengakar terbukti lebih efektif dengan tantangan industri dan teknologi menjelang abad ke dua puluh satu dibandingkan …. Negara-negara itu dengan satu sebagian besar Kristen tradisi Hebraic (dikutip dalam Winchester 1991 : 61). Komentar serupa telah disampaikan tentang dunia muslim. (kotak 3.2). Di sisi lainnya, beberapa pandangan tampak mengabaikan dua fakta. Salah satunya adalah bahwa hanya empat puluh tahun yang lalu itu Confucianism secara luas dianggap sebagai satu factor penghalang menjelaskan kekurangan kemajuan ekonomi Asia Timur. Selain itu, diatas skala global, masyarakat dan ekonomi secara tepat ‘sebagian besar tradisi Christian Hebraic yang telah membuat sebagian besar kemajuan dalam menuju tantangan industri dan teknologi menjelang abad ke dua puluh satu.

PERKEMBANGAN AJARAN CONFUCIUS

Setelah Confucius Meninggal Dunia

Setelah Confucius meninggal dunia pada tahun 479 SM, maka perkembangan
ajaran Confucius diteruskan oleh murid-muridnya, yang seluruhnya berjumlah
kurang lebih 3000 orang. Di antara mereka terdapat 72 murid utama yang
paling menonjol, sehingga dijuluki ` 72 orang bijak '. Terdapat cukup banyak
murid-muridnya tersebut yang memangku jabatan tinggi di pemerintahan.
Golongan terpelajar yang mengikuti ajaran Confucius ini membentuk suatu
aliran intelektual yang disebut " Ru Jia " (Golongan Terpelajar).

Di dalam perkembangan Ru Jia ini, tercatat beberapa tokoh yang memegang
peranan cukup penting dalam meneruskan tradisi ajaran Confucius, yaitu Cheng
Se (483 - 402 SM), Mencius (Beng Zi 371 - 289 SM), dan Hsun Zi (298 - 238
SM). Yang paling menonjol adalah Mencius dan Hsun Zi. Pandangan mereka
sedikit berbeda dalam menanggapi masalah kehidupan berdasarkan sifat sejati
manusia [Jen Sing]. Dalam kitab Lun Yu XVII/2 dikatakan, " Watak sejati itu
saling mendekatkan, kebiasan saling menjauhkan". Ini berarti setiap manusia
sudah membawa serta kodrat (karma dalam pengertian Buddhisme) masing-masing;
apakah kodratnya yang dibawa sejak lahir itu baik atau buruk akan menentukan
tingkah laku seseorang dalam pendidikan dan pergaulan di kemudian hari, yang
mana akan mempengaruhi kepribadian orang tersebut.

Di dalam menanggapi hal demikian, terdapat perbedaan antara Mencius dan Hsun
Zi. Menurut pandangan Mencius pada dasarnya sifat sejati manusia (Jen Sing)
yang dibawa sejak lahir adalah baik. Ini terbukti pada umumnya manusia
mempunyai rasa iba terhadap anak kecil, manusia senang akan perdamaian dan
manusia bila saling bertemu dengan kenalannya suka menampilkan senyumnya.
Manusia dapat menyempurnakan sifat sejatinya (Jen Sing) dengan berusaha
memupuk sifat-sifat mulia lainnya, yaitu : Jen, I, Li, Chih, Hsin dan
menjadi manusia yang sempurna budi pekertinya (C'un Zi). Selain itu, faktor
pendidikan dan pergaulan memegang peranan yang cukup penting juga khususnya
dalam pembentukan karakter dan budi pekerti manusia.

Hsun Zi berpandangan bahwa pada dasarnya sifat sejati manusia (Jen Sing)
yang dibawa sejak lahir adalah buruk atau tidak baik adanya. Manusia belum
seluruhnya meninggalkan sifat-sifat buruk primitifnya. Manusia masih
memiliki naluri yang kuat untuk makan bila lapar, minum bila haus, mencari
tempat yang hangat bila kedinginan, beristirahat bila letih. Naluri-naluri
tersebut mempunyai sifat buruk. Namun, sifat buruk tersebut dapat diubah
dengan pendidikan budi pekerti, sehingga manusia dapat berubah menjadi
beradab dan baik. Demikian juga dengan pengetahuan mengenai kesusasteraan
dan kesenian (musik) akan menghadirkan manusia-manusia yang dapat menghayati
nilai kesejatian hidup ini. Walaupun demikian, Mencius dan Hsun Zi
sependapat, bahwa karakter dapat dibentuk melalui pendidikan. Oleh karena
itu, menurut ajaran Confucius, nilai pendidikan bagi seseorang amatlah
penting. Hal inilah yang mereka terapkan selama berabad-abad dalam rangka
pembentukan karakter manusia.

Setelah melewati periode pasang surut selama abad ke-3 SM, Confucianisme
akhirnya mulai berkibar kembali selama dinasti Han (206 SM-tahun 220). Karya
para Confucianis, dimana salinannya sempat dimusnahkan sebelum periode
tersebut, disalin kembali dan diajarkan oleh para cendekiawan di berbagai
akademi nasional. Karya-karya tersebut kemudian juga ditetapkan sebagai
suatu syarat ujian negara untuk dapat memangku jabatan ketatanegaraan. Para
calon pegawai yang akan ditempatkan dalam jabatan pemerintahan, haruslah
memperlihatkan penguasaan pengetahuannya terhadap literatur klasik tersebut.
Sehingga, paham Confucianisme menduduki posisi yang sangat mempengaruhi
kehidupan politik dan intelektual China saat itu.

Kesuksesan pengajaran Confucianisme pada masa dinasti Han terutama atas jasa
dari Tung Chung-shu, yang pertama merekomendasikan sistim pendidikan harus
dibina berdasarkan ajaran Confucius. Tung Chung-shu mempercayai bahwa
kedekatan hubungan antara sifat sejati manusia dan alam; yakni perbuatan
manusia dapat mempengaruhi berbagai fenomena di alam semesta. Segala bencana
alam dapat dipandang sebagai suatu peringatan terhadap manusia karena
perbuatannya yang melanggar sila. Hal ini menciptakan ketakutan terhadap
Yang Maha Kuasa dimana dengan kekuasaanNya, memiliki kekuatan yang tidak
terbatas (omnipotent).

Dalam situasi kekacauan politik setelah runtuhnya dinasti Han, paham
Confucianisme dibayangi dua ajaran filsafat yang juga sama-sama berkembang
saat itu, yaitu Taoisme dan Buddhisme. Walaupun begitu, karya-karya klasik
Confucius tetap merupakan sumber utama bagi para pelajar saat itu, dan
dengan dimulainya masa perdamaian dan kemakmuran dalam dinasti Tang
(618-907), penyebaran Confucianisme makin dipacu. Monopoli pengajaran yang
dipegang oleh para pengikut Confucius, sekali lagi menjadikan paham ajaran
ini menduduki posisi birokrasi yang tinggi, sebagai suatu ajaran negara
dengan sistim ortodok.

http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/1241

Minggu, 02 November 2008

pemanfaatan lahan pasca tambang timah .

Abstrak

Kegiatan penambangan timah di darat telah lama berlangsung terutama di Pulau Bangka, Belitung dan Singkep. Dampak dari operasi penambangan adalah penurunan sifat-sifat fisik dan kimia tanah, perubahan topografi lahan, hilangnya vegetasi alami, berkurangnya habitat satwa liar. Lahan pasca tambang timah didominasi oleh hamparan tailing, overburden, dan kolong. Tailing timah mempunyai karakterisitik fisika dan kimia tanah serta kondisi iklim mikro yang jelek. Untuk memanfaatkan kembali lahan pasca tambang timah, terutama lahan tailing perlu dilakukan reklamasi dan rehabilitasi. Berbagai aplikasi teknologi telah dan akan dikembangkan untuk memperoleh hasil yang memuaskan. Sejumlah spesies tumbuhan spesifik lokal, tanaman eksotik seperti akasia, dan tanaman budidaya dikembangkan sebagai tanaman untuk revegatasi lahan pasca tambang timah. Meskipun demikian sampai saat ini belum ada manfaat ekonomis yang secara nyata dirasakan oleh masyarakat dari reklamasi tersebut.


Pendahuluan

Pembangunan memerlukan sumberdaya alam (SDA), antara lain mineral, batubara dan panas bumi. Indonesia relatif kaya dengan berbagai SDA yang harus dioptimalkan pemanfaatannya. Salah satu sumberdaya mineral yang dimiliki Indonesia adalah bijih timah dengan kandungan stanium (Sn). Menurut Noer (1998), kasiterit (SnO2) adalah mineral utama pembentuk timah dengan batuan pembawanya adalah granit. Sujitno (2007) menjelaskan kegunaan timah antara lain untuk bahan pencampur dalam pembuatan alat-alat musik (seperti gong gamelan, dan lonceng), bahan pembuat kemasan kaleng, bahan solder, senjata (peluru), fire retardant, bahan pelapis anti karat, dan kerajinan cindera mata (pewter).

Endapan timah di Indonesia merupakan lanjutan dari salah satu jalur timah terkaya di dunia yang membujur dari Cina Selatan, Myanmar, Thailand, Malaysia, hingga Indonesia. Di Indonesia jalur timah tersebut meliputi pulau-pulau Karimun, Kundur, Singkep, Bangka Belitung, Beling, dan daerah Bangkinang serta Kepulauan Anambas, Natuna dan Karimata (Noer, 1998). Penambangan timah terbesar berada di Pulau Bangka, Belitung, dan Singkep (PT. Timah Tbk., 2006). Kegiatan penambangan timah di pulau-pulau ini telah berlangsung sejak zaman kolonial Belanda hingga sekarang. Pulau Bangka merupakan pulau penghasil timah terbesar di Indonesia. Dari luas Pulau Bangka 1.294.050 ha, sebesar 27,56 % daratan pulau ini merupakan areal Kuasa Penambangan (KP) timah. PT. Tambang Timah (anak perusahaan PT. Timah Tbk,) menguasai lahan seluas 321.577 ha dan PT. Kobatin seluas 35.063 ha (Bappeda Bangka, 2000). Selain kedua perusahan tersebut, izin kuasa penambangan (KP) timah juga diberikan kepada perusahaan swasta, Sampai dengan pertengahan tahun 2007, jumlah KP timah mencapai 101 izin dengan luas pencadangan 320.219 ha, dan yang telah ditambang 6.084 ha (Dinas Pertambangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 2007).

Penambangan timah lepas pantai dilakukan dengan teknologi kapal keruk (Departemen Pertambangan dan energi, 1998) sedangkan penambangan timah di darat dilakukan dengan sistem tambang semprot, tambang dalam dan kapal keruk darat (Sujitno, 2007). Tahapan utama penambangan timah dengan sistem terbuka (open pit) meliputi pembukaan permukaan lahan dari penutupan vegetasi (land clearing), pengupasan tanah bagian atas (stripping), penggalian, pembuatan dam, pencucian, dan pembuangan bahan padat sisa hasil pencucian timah (tailing) (PT. Timah Tbk, 1991).

Kegiatan operasi tambang berdampak secara nyata terhadap lingkungan hidup. Menurut Sujitno (2007), dampak kegiatan ini terutama perubahan drastis atas sifat fisik dan kimia tanah. Setiadi (2006) menambahkan dampak tersebut termasuk gangguan terhadap vegetasi, hewan dan tanah yang ada, serta ekosistem alami. Dampak kehilangan vegetasi dan degradasi lahan secara potensial dapat menyebabkan erosi tanah, kehilangan biodiversitas, berkurangnya habitat hewan liar, dan degradasi daerah penampung air.

Pertambangan adalah kegiatan dengan penggunaan lahan yang bersifat sementara, oleh karena itu lahan pasca tambang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan produktif lain. Untuk memanfaatkan lahan pasca tambang maka harus ada upaya untuk memulihkan kembali lahan yang telah rusak akibat dari kegiatan penambangan. Upaya perbaikan lahan bekas tambang dilakukan melalui program reklamasi dan revegetasi lahan bekas tambang.


Dampak Penambangan Timah

Kegiatan penambangan di darat berpengaruh terutama pada sifat fisik dan kimia tanah. Perubahan struktur tanah terjadi akibat penggalian top soil untuk mencapai lapisan bertimah yang lebih dalam. Pembuatan dam (phok) telah mengubah topografi dan komposisi tanah permukaan akibat digunakannya tanah overburden sebagai sarana penimbun. Top soil musnah karena tertimbun tailing atau terendam genangan air (Sujitno, 2007).

Lebih lanjut Sujitno (2007) menjelaskan, pemandangan umum yang dijumpai pada lahan bekas tambang timah berupa kolong (lahan bekas penambangan yang berbentuk semacam danau kecil dengan kedalaman mencapai 40 m), timbunan liat hasil galian (overburden), dan hamparan taling yang berupa rawa atau lahan kering. Latifah (2004) mengindikasikan bahwa sejalan dengan waktu, timbunan tailing akan membentuk hamparan tailing yang semakin luas. Kolong yang terbentuk pada proses penambangan skala besar umumnya tidak memunginkan untuk ditimbun sehingga menjadi semacam danau buatan.

Sejauh ini pemanfaatan kolong timah di Pulau Bangka belum optimal. Sebagian besar hanya dibiarkan, secara ekologis kolong tersebut berfungsi sebagai kolam retensi dan water catchment area untuk menampung hujan yang mengalir melalui aliran permukaan. Secara ekonomi, potensi kolong untuk dimanfaatkan sebagai sumber air baku, budidaya perairan, atau tempat rekreasi air Belum banyak dilakukan, baik oleh perusahaan penambang maupun pemerintah. Demikian juga pemanfaatan lahan tailing yang semakin luas sampai saat ini hanya sebatas di”hijau”kan dengan tanaman-tanaman serbaguna (multipurpose tree species, MPTS), terutama akasia.


Reklamasi dan Revegetasi Lahan Bekas Tambang Timah

Reklamasi sebagai usaha untuk memperbaiki atau memulihkan kembali lahan yang rusak sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan, agar dapat berfungsi secara optimal sesuai dengan kemampuannya (Direktorat Jenderal Rehabilitasi Hutan dan Lahan Departemen Kehutanan, 1997).

Ruang lingkup reklamasi lahan meliputi:

(1) pemulihan lahan bekas tambang untuk memperbaiki lahan yang terganggu ekologinya, dan

(2) mempersiapkan lahan bekas tambang yang sudah diperbaiki ekologinya untuk pemanfaatan selanjutnya. Sasaran akhir dari reklamasi tersebut adalah terciptanya lahan bekas tambang yang kondisinya aman, stabil dan tidak mudah tererosi sehingga dapat dimanfaatkan kembali sesuai dengan peruntukannya (Direktorat Jenderal Mineral Batubara Dan Panas Bumi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, 2006).

Menurut Sujitno (2007), arah dari upaya rehabilitasi lahan bekas tambang ditinjau dari aspek teknis adalah upaya untuk mengembalikan kondisi tanah agar stabil dan tidak rawan erosi. Dari aspek ekonomis dan estetika lahan, kondisi tanah diperbaiki agar nilai/potensi ekonomisnya dapat dikembalikan sekurang-kurangnya seperti keadaan semula. Dari aspek ekosistem, upaya pengembalian kondisi ekosistem ke ekosistem semula. Dalam hal ini revegetasi/reforestisasi adalah upaya yang dapat dinilai mencakup kepada kepentingan aspek-aspek tersebut. Reklamasi hampir selalu identik dengan revegetasi.

Revegetasi adalah usaha atau kegiatan penanaman kembali lahan bekas tambang ((Direktorat Jenderal Rehabilitasi Hutan dan Lahan Departemen Kehutanan, 1997). Menurut Setiadi (2006), tujuan dari revegetasi akan mencakup re-establishment komunitas tumbuhan asli secara berkelanjutan untuk menahan erosi dan aliran permukaan, perbaikan biodiversitas dan pemulihan estetika lanskap. Pemulihan lanskap secara langsung menguntungkan bagi lingkungan melalui perbaikan habitat satwa liar, biodiversitas, produktivitas tanah dan kualitas air.

Landasan hukum utama kegiatan reklamasi adalah Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan Ketentuan Pokok Pertambangan. Pada Pasal 30 dari Undang-undang tersebut dinyatakan bahwa Apabila selesai melakukan penambangan bahan galian pada suatu tempat pekerjaan, pemegang Kuasa Penambangan (KP) diwajibkan mengembalikan tanah sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan bahaya bagi masyarakat sekitarnya. Selanjutnya pada Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2001, tentang Perubahan Kedua Atas PP No. 32/1969 tentang Pelaksanaan UU No 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan Pasal 46 ayat (4) disebutkan bahwa sebelum meninggalkan bekas wilayah KP-nya, baik karena pembatalan maupun karena hal yang lain, pemegang KP harus terlebih dahulu melakukan usaha-usaha pengamanan terhadap benda-benda maupun bangunan-bangunan dan keadaan tanah di sekitarnya yang dapat membahayakan keamanan umum.

Pada Pasal 46 ayat (5) disebutkan bahwa Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota sesuai kewenangannya dapat menetapkan pengaturan keamanan bangunan dan pengendalian keadaan tanah yang harus dipenuhi dan ditaati oleh pemegang KP sebelum meninggalkan bekas wilayah KP.

Peraturan pelaksanaan reklamasi lahan diatur dalam Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1211.K/008/M.PE/1995 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Perusakan dan Pencemaran Lingkungan pada Kegiatan Pertambangan Umum. Pada Pasal 12 ayat (1) reklamasi areal bekas tambang harus dilakukan secepatnya sesuai dengan rencana dan persyaratan yang telah ditetapkan, dan ayat (2), reklamasi dinyatakan selesai setelah disetujui oleh Dirjen. Pada Pasal 13 ayat (1), Kepala Teknik Tambang wajib menanami kembali daerah bekas tambang, termasuk daerah sekitar project area sesuai studi AMDAL yang bersangkutan.

Pemanfaatan Lahan Pasca Tambang Timah

Berbagai upaya telah dilakukan untuk memanfaatkan tailing timah. Penanaman dengan tanaman hortikultura dan tanaman pangan telah berhasil. Sejumlah area digunakan untuk pemukiman, sementara areal lain dikonversi menjadi taman rekreasi (Majid et al, 1994). Sekitar 80 % dari tailing timah merupakan sand dan sisanya slime dan sandy slime. Slime tailing merupakan hamparan permukaan yang lebih baik dibandingkan sand tailing untuk pertanian karena drainasenya baik. Sand tailing sangat tidak subur dan tidak cocok untuk budidaya tanaman.

Hanya sebagian kecil dari lahan tidak subur tersebut yang dimanfaatkan untuk peternakan, penanaman sayuran, dan buah (Ang, 1994). Sujitno (2007) melaporkan sejumlah tanaman sudah pernah dicoba perusahaan maupun masyarakat untuk memanfaatkan lahan tailing timah di Pulau Bangka, Belitung dan Singkep. Tanaman tersebut antar lain kelapa, jambu monyet, pisang, ubi, pepaya, kacang tanah, dan sayuran. Budidaya tanaman tersebut dikombinasikan dengan usaha peternakan ayam yang merupakan sumber bahan organik bagi lahan ini. Menurut Majid et al. (1994), produksi pertanian di tailing timah sangat intensif dan membutuhkan masukan modal yang besar dan tentu saja sulit terjangkau oleh petani umumnya.

Penggunaan pohon, terutama spesies pohon multiguna (multipurpose tree species, MPTS) seperti Acacia mangium, Acacia auriculiformis dan Leucaena diversifolia telah digunakan untuk silvikultur di lahan bekas tambang di Semenanjung Malaysia sejak 1987. Luas tailing timah yang harus di reklamasi di negara tersebut diperkirakan 202.700 ha atau sekitar 1,5% dari total daratan semenanjung Malaysia ((Awang, 1994).

PT. Timah Tbk selaku perusahaan pertambangan timah utama di Indonesia mulai melakukan penelitian secara sistematis dan ilmiah untuk revegetasi lahan pasca tambang timah pada tahun 1982 bekerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian. Selanjutnya revegetasi dilakukan dengan menggunakan tanaman akasia (A. mangium dan A. auriculiformis), gamal dan sengon (Sujitno, 2007). Revegetasi selama lebih dari 6 tahun dengan A. mangium di lahan pasca tambang PT. Timah Tbk dikategorikan berhasil (Latifah, 2000). Sampai dengan April 2001, PT. Timah Tbk. telah mereklamasi sekitar 5.251. ha di Pulau Bangka dan Belitung (PT. Timah Tbk., 2002).

Sejak tahun 2001, perusahaan ini untuk sementara menghentikan program reklamasinya karena lahan-lahan yang telah direklamasi ditambang kembali secara illegal oleh masyarakat setempat. Program tersebut baru dilaksanakan kembali pada tahun 2007 melalui pencanangan program Green Babel.

Sementara itu, PT. Koba Tin sudah mulai melakukan upaya reklamasi dan revegetasi pada tahun 1976 dengan melakukan berbagai percobaan. Semenjak tahun 1988-1989, perusahaan telah mulai kegiatan reklamasi dengan penanaman tanaman pohon seperti akasia, sengon dan gelam (Setiawan, 2003). Sampai tahun 2002, PT. Koba Tin telah mereklamasi 3.304 ha lahan bekas tambang di Kabupaten Bangka Tengah (PT. Koba Tin, 2003 in Nurtjahya, 2003).

Alternatif Komoditi

Ditinjau dari aspek konservasi lahan, revegetasi dengan menggunakan jenis MPTS telah dilakukan berhasil menghijaukan kembali lahan-lahan bekas tambang serta mampu mencegah erosi. Akan tetapi, sangat disayangkan tanaman yang dikembangkan belum memberikann manfaat secara ekonomi, baik bagi perusahaan maupun masyarakat setempat. Oleh sebab itu perlu dikembangkan spesies lain yang bernilai ekonomis lebih tinggi, seperti tanaman pangan, buah, industri dan tanaman perkebunan.

Gofar et al. (1999) dan Naning et al (1999) telah melakukan penelitian terhadap tanaman jagung sedangkan Hanura (2005) terhadap tanaman kedelai. Sementara itu Santi (2005) meneliti pengembangan tanaman nilam. Sejak tahun 2006, PT. Tambang Timah (anak perusahaan PT. Timah Tbk.) membuat demplot budidaya jarak pagar (Jatropha curcas L.) di beberapa lahan bekas tambang, dengan bekerjasama dengan Universitas Bangka Belitung (PT. Timah Tbk, 2006).

Penelitian-penelitian serupa untuk komoditi lain perlu terus diintensifkan agar manfaat ekonomis dari hasil reklamasi dan revegetasi dapat dinikmati oleh masyarakat pasca era kejayaan timah. Riset terapan yang memfokuskan pada satu komoditi yang dianggap prospektif untuk memperoleh paket teknologi reklamasi yang paripurna, murah dan sederhana. Terdapat banyak komoditi yang dapat dikembangkan sebagai alternatif, terutama tanaman-tanaman buah dan perkebunan. Tanaman buah yang telah banyak ditanam di pekrangan rumah seperti mangga dan jeruk di beberapa lokasi berhasil tumuh dan berproduksi dengan baik di tanah bekas tambang.

Selain pilihan komoditi, pengembangan teknologi reklamasi tambang timah juga perlu menekankan pada pemanfaatan bahan organik yang tersedia secara lokal, misalnya limbah padat dan cair pengolahan kelapa sawit, limbah cair pengolahan karet, kompos yang berasal dari sampah kota, kompos dari sisa-sisa tanaman pada suatu pembukaan lahan, dan sebagainya. Hal ini perlu dilakukan, karena selain bahan-bahan tersebut belum dimanfaatkan, juga untuk menekan biaya reklamasi terutama biaya penambahan bahan organik pada tailing timah yang cukup tinggi.

Kesimpulan

1. Lahan pasca tambang timah merupakan lahan marjinal yang mempunyai sifat-sifat fisik dan kimia serta iklim mikro yang jelek, sehingga untuk memanfaatkannya kembali diperlukan upaya reklamasi dan revegetasi lahan.

2. Reklamasi lahan pasca tambang timah secara hukum wajib dilaksanakan oleh perusahaan tambang timah sebagai wujud tanggung jawabnya untuk memulihkan kembali lahan yang telah mengalami degradasi akibat operasional tambang.

3. Kegiatan revegetasi lahan tailing timah telah dilakukan dengan menggunakan spesies asli setempat (native species), spesies pohon multiguna (multipurpose tree species), dan tanaman budidaya.

4. Sejumlah bidang penelitian mempunyai prospek untuk diteliti lebih lanjut untuk meningkatkan keberhasilan reklamasi, baik secara teknis, ekologis maupun ekonomis.

POTENSI MINERAL KUARSA DAN ENDAPAN TIMAH LETAKAN DALAM KAITANNYA DENGAN BATUAN GRANIT LP-1017 BATAM, RIAU KEPULAUAN * muii ass

Oleh:

Agus Setyanto, E.Usman dan D. Setiady

Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Sari



Daerah penelitian terletak di perairan Batam Utara. Daerah ini dikenal sebagai jalur granit pembawa timah. Untuk itu, telah dilakukan penelitian secara geologi dan geofisika dalam hubungannya mengetahui kandungan mineralnya, terutama di dalam sedimen permukaan dasar laut atau sebagai suatu endapan letakan.Berdasarkan teksturnya, sedimen permukaan dasar laut dapat dibagi menjadi 12 unit permukaan dasar laut dimana satuan pasir sebagai tekstur yang paling dominan dibandingkan satuan lainnya.Kandungan mineral kuarsa (SiO2) di dalam sedimen permukaan permukaan dasar laut sangat kaya dan kandungan mencapai rata-rata 79,72% berdasarkan analisis mineral di dalam satuan pasir mengandung lempung dan lanau. Mineral ini, kandungannya akan lebih tinggi lagi bila terdapat di fragmen kasar (pasir – kerikil) dan kandungannya bisa mencapai lebih dari 90%. Mineral kuarsa ini sangat umum terdapat di dalam batuan granit atau batuan felsik. Batuan granit di daerah penelitian juga mengandung mineral kasiterit dan mineral berat lainnya. Mineral kasiterit adalah pembentuk logam timah yang mengandung 10 hingga 150 ppm. Kandungan tertinggi terdapat di contoh nomor 1017-75 dan terendah terdapat di contoh nomor 1017-15 dan 1017-35.Mineral kuarsa dan kasiterit diendapkan sebagai endapan letakan dan mineral-mineral ini berhubungan erat dengan proses pelapukan batuan granit yang akhirnya diendapkan di dalam sedimen permukaan dasar laut.

Kata Kunci: Potensi, Kuarsa, Timah , Granit dan LP1017.

Abstract

The study area is located on north of Batam waters. This area is known as a tin granites belt. Therefore, some geological and geophysical works have been done in order to know the mineral contain, especially in the seafloor sediment or as a placer deposits.Based on their textures, they can be divided into 12 units of seafloor sediment where sand unit is dominant texture compare to other units.The contain of quartz (SiO2) minerals in the floor sediment are abundant and they can reach approximately 79,72%, these minerals have been analyzed and can be found in fine sediment such as clay and silt. These minerals will be more abundant in coarse sediment and they are seemly predicted more than 90%. Quartz minerals are very common in granite rocks or in felsic rock. Granites rock in the study area also contain cassiterite minerals and other heavy minerals. Cassiterite mineral is the principal ore of tin which contain of 10 up to 150 ppm. The highest content of tin (Sn) ore deposit was found on 1017-75 samples and the lowest content was found on 1017-15 and 1017-35 samples.Quartz and cassiterite minerals are deposited as a placer deposit and they are closely related to weathering processes of granite rocks, and at last they are deposited in the seafloor sediment.

PENDAHULUAN

Latar Belakang







Perairan Batam bagian utara (Lembar Peta 1017) merupakan daerah granit yang kaya dengan potensi pasir kuarsa dan timah sebagai endapan letakan. Beberapa perusahaan pertambangan dan Kuasa Pertambangan yang diberikan oleh pemerintah setempat memperlihatkan bahwa kegiatan pertambangan umumnya adalah pertambangan golongan C (pasir laut). Padahal di dalam pasir laut tersebut mengandung mineral kuarsa dan timah dan mineral berat lainnya yang bernilai lebih ekonomis bila dibandingkan dengan nilai pasir laut.Di lain pihak, akibat penambangan pasir laut dalam skala besar telah menyebabkan kerusakan dasar laut dan abrasi pantai.Berdasarkan hal tersebut maka pada Tahun Anggaran 2005 telah dilakukan penelitian geologi dan geofisika, sehingga dapat diketahui kandungan mineral kuarsa, kasiterit dan mineral berat lainnya (Usman, dkk., 2005). Dari penelitian tersebut diharapkan akan diperoleh data potensi sumber daya mineral guna mendukung data potensi mineral di perairan Batam – Riau Kepulauan dalam rangka mendukung inventarisasi data mineral nasional. Diharapkan pula dari kajian dan analisis mengenai mineral kuarsa dan timah plaser akan memperkuat landasan bagi pengambilan keputusan perlunya penetapan zonasi mineral di perairan Batam dan sekitarnya.

Maksud dan Tujuan













Maksud kegiatan penelitian adalah dalam rangka mendukung data dan informasi geologi kelautan untuk mendukung inventarisasi data sumber daya mineral di wilayah laut nasional khususnya di daerah-daerah perbatasan. Dari data tersebut selanjutnya akan menjadi dasar dalam evaluasi kondisi geologi, potensi energi dan sumber daya mineral dan aspek lainnya yang mendukung kepentingan penentuan batas negara dengan negara tetangga.Sedangkan tujuan kegiatan penelitian adalah untuk memperoleh data-data geologi bawah permukaan dan potensi mineral timah dalam pasir laut di perairan Lembar Peta 1017 yang diharapkan dapat bermanfaat bagi upaya pemanfaatan sumber daya alam di laut, terutama sumber daya mineral.

Metoda PenelitianGeologi Regional









Secara geologi perairan Batam termasuk dalam jalur timur (eastern province) granit Asia Tenggara yang berumur Karbon, Perm dan Trias yang kaya dengan kandungan timah (Cobing, 1992). Granit ini terbentuk pada saat orogenesa Trias yang mengangkat batuan granit ke permukaan sebagai satu rangkaian pulau-pulau timah yang membujur dari daratan Thailand – Malaysia hingga Bangka – Belitung, jalur timah ini dikenal sebagai Tin Belt of Sumatera yang kemudian dikenal sebagai jalur granit Asia Tenggara. Mineral-mineral letakan yang didominasi oleh timah dan mineral berat tersebut berasal dari batuan granit pada pulau-pulau timah yang terdapat di sekitar perairan LP-1017 yang telah mengalami deformasi dan pelapukan.Batuan granit di P. Batam dan P. Bintan juga merupakan kesatuan batuan granit yang yang terdapat di Semenanjung Peninsula Malaysia yang melampar hingga ke Kalimantan Barat. Ciri-ciri batuan beku granit ini adalah: berwarna abu-abu kemerahan hingga kehijauan, berbutir kasar dengan komposisi mineral feldspar, kuarsa, hornblende dan biotit. Mineral utama umumnya adalah bertekstur primer dan membentuk suatu pluton batholit bertipe asam yang tersingkap dengan baik di daratan P. Batam dan P. Bintan. Menurut Cobing (1992), batuan granit di perairan Batam merupakan Granit Tipe S yang dicirikan oleh kandungan SiO2 (lebih besar dari 66%) dan Sn yang besar, sedangkan CaO dan Na2O lebih kecil. Sedangkan batuan sedimen yang terdapat di daratan P. Batam dan P. Bintan adalah pelamparan dari Formasi Goungan yang terdiri dari batupasir tufaan berwarna keputih-putihan dengan butir yang halus hingga menengah membentuk laminasi sejajar. Batuan lainnya adalah umumnya dijumpai sebagai tuf dasitan dan tuf lithik feldspatik (pyroclastics) berwarna putih, halus dan setempat-setempat berselingan dengan batupasir. Formasi Goungan adalah batuan sedimen dengan penyebaran paling luas di P. Batam dan P. Bintan; penyebarannya diduga menerus ke laut.

Analisis Besar Butir





Analisis besar butir dilakukan dengan memisahkan berat asal 100 gram (tanpa cangkang). Pemisahan butir dilakukan mulai dari fraksi -2.0 phi hingga 4.0 phi, sedangkan untuk fraksi lainnya dihitung mulai dari 4.0 phi hingga 8.0 phi setelah melalui proses pengeringan. Data tersebut kemudian diolah pada komputer dengan mempergunakan Program Sel, Kum dan Kummod untuk mendapatkan beberapa parameter, antara lain: X (phi), sortasi, skewness, kurtosis serta komposisi kerikil, pasir, lanau dan lempung (lumpur). Klasifikasi sedimen disusun berdasarkan Folk (1980) dengan memperhatikan parameter persentase dari kandungan butiran yang terdapat tiap 100 gram sedimen.

Analisis Kimia dan Fotomikrograf











Analisis kuarsa, timah dan mineral berat dilakukan secara megaskopis dan mikroskopis. Analisis megaskopis dilakukan untuk mengidentifikasi kandungan butiran kuarsa sebagai penciri sedimen mengandung timah. Selanjutnya dilakukan analisis geokimia di laboratorium secara AAS. Analisis lainnya adalah analisis sayatan tipis di bawah mikroskop (petrografis) yang disajikan dalam bentuk fotomikrograf dengan perbesaran 200 x. Dengan analisis tersebut diharapkan kandungan kuarsa, timah dan mineral berat dalam sedimen dasar laut di LP-1017 dapat diketahui.

Seismik Pantul













Untuk mendapatkan data mengenai geologi bawah dasar laut (batuan dan mineral) dipergunakan metoda seismik pantul (seismic reflection). Dengan menggunakan metoda seismik akan dapat membantu mengetahui penyebaran/ketebalan batuan dan sedimen yang mengandung mineral. Penafsiran data seismik pantul menggunakan prinsip-prinsip Seismik Stratigrafi, yaitu pengenalan terhadap ciri-ciri reflektor batas atas, batas bawah dan bagian dalam (internal reflector) setiap unit seismik (Priyono, 2000). Selanjutnya pengenalan dan penamaan ciri-ciri reflektor mengacu pada Sangree & Wiedmier (1979) dan Sherif (1980). Umumnya ciri-ciri reflektor di daerah penelitian adalah: selaras (C=Concordance), laminasi sejajar (P=Parallel), berbentuk huruf S (S=Sigmoid), miring (O=Oblique) dan selaras (lamination/paralel), berbukit-bukit (M-Mounded), dan longsoran (slump). Sedangkan kontak ketidakselarasan dapat berupa pepat erosi (erosional truncation) atau kontak membaji (onlap).

HASIL PENELITIAN

Sedimen Permukaan Dasar Laut











Pengambilan contoh sedimen dilakukan pada 81 lokasi pada LP-1017 yang meliputi perairan bagian barat dan utara P. Batam serta perairan bagian utara dan timur P. Bintan. Bagian tengah daerah penelitian termasuk dalam perairan Selat Phillip, di bagian barat berbatasan dengan Selat Malaka dan bagian timur berbatasan dengan Laut Natuna (Gambar 1).Hasil analisis Besar Butir (Folk, 1980), diperoleh 12 satuan tekstur sedimen dasar laut yang terdiri dari: Lumpur pasiran sedikit kerikilan (g)sM, Pasir lumpuran sedikit kerikilan (g)mS, Pasir lumpuran kerikilan (gmS), Pasir kerikilan (gS), Kerikil pasiran (sG), Lumpur kerikilan (gM), Lanau pasiran (sZ), Lanau (Z), Lumpur sedikit kerikilan (g)M, Pasir sedikit kerikilan (g)S, Lumpur pasiran kerikilan (gsM) dan Pasir lanauan (zS). Selanjutnya satuan tekstur tersebut dikelompokkan menjadi kelompok tekstur sedimen dasar laut yang terdiri dari lumpur, lanau, pasir dan kerikil (Gambar 2).Secara umum sedimen yang terdapat di daerah penelitian merupakan fraksi kasar dengan ukuran yang didominasi oleh pasir ukuran sedang hingga kasar. Kondisi ini disebabkan oleh geologi daerah penelitian merupakan daerah granit yang kaya dengan butiran mineral kuarsa dan mineral ubahan lainnya seperti: kaolin dan lempung teroksidasi berwarna kemerahan. Dominannya mineral kuarsa menunjukkan tipe batuan induk adalah batuan beku asam. Disamping itu, kondisi arus yang kuat yang bergerak mengikuti alur Selat Malaka terutama di daerah antar pulau (selat) menyebabkan sedimen fraksi halus akan terbawa jauh oleh arus, hanya fraksi kasar yang diendapkan di perairan bagian tengah, baratlaut, utara dan timur. Sedangkan di daerah bagian barat dan tenggara muncul sedimen yang lebih halus (lumpur dan lanau) dengan campuran pasir dan kerikil. Bentuk fisik butiran yang umum dijumpai adalah butiran berwarna putih bersih, sedikit lithik berwarna hitam dan menyudut tajam. Butiran berwarna putih tersebut adalah pasir kuarsa yang berasal dari rombakan batuan granit. Kandungan cangkang dan lempung kaolinit (deskripsi megaskopis di lapangan) umumnya terdapat di daerah perairan dengan morfologi yang datar dan arus yang lemah, yaitu di bagian barat, tenggara dan timur daerah penelitian.

Kandungan Mineral

Analisis Kimia











Pemeriksaan terhadap unsur logam dan non-logam dilakukan untuk mendapatkan data kandungan mineral timah (Sn) dan kuarsa (SiO2) dalam sedimen dasar laut (lanau – kerikil). Kandungan Sn berkisar antara 10 - 150 ppm; Sn tertinggi terdapat di lokasi 1017-75 dengan



Gambar 1. Lokasi pengambilan contoh sedimen permukaan dan lintasan seismik L-69 Lembar Peta 1017.






Gambar 2. Sebaran kelompok tekstur sedimen dasar laut Lembar 1017 Batam – Riau Kepulauan (Usman, drr, 2005).







kandungan 150 ppm dan terendah di lokasi 1017-15 dan terendah di lokasi 1017-35 dengan kandungan 10 ppm – (Tabel 2).Mineral kuarsa (SiO2) umumnya dengan kandungan di atas 74,54%. Nilai ini tergolong tinggi di atas 66% (Cobing, 1992) karena dihitung pada sedimen pasir yang mengandung lempung dan lanau. Apabila analisis dilakukan pada endapan pasir tanpa lempung, maka kandungan SiO2 dapat mencapai angka rata-rata di atas 90%. Sebab pada dunia industri kandungan SiO2 yang diperlukan rata-rata di atas 98%.

No


Lokasi
Contoh


SiO2
(%)


Sn
(ppm)


Tekstur Sedimen
(Folk, 1980)

1


1017-12


79,56


30


Pasir Lumpuran Kerikilan, gmS

2


1017-14


80,44


120


Pasir Lumpuran Sedikit Kerikilan, (g)mS

3


1017-15


81,68


10


Pasir Kerikilan, gS

4


1017-17


-


20


Pasir Lumpuran Sedikit Kerikilan, (g)mS

5


1017-22


76,27


10


Lumpur Pasiran Sedikit Kerikilan, (g)sM

6


1017-26


-


70


Pasir Lumpuran Sedikit Kerikilan, (g)mS

7


1017-27


74,54


80


Pasir Kerikilan, gS

8


1017-30


75,22


60


Pasir Kerikilan, gS

9


1017-35


79,87


10


Pasir Lumpuran Sedikit Kerikilan, (g)mS

10


1017-42


80,08


20


Pasir Lumpuran Sedikit Kerikilan, (g)mS

11


1017-69


-


30


Pasir Lumpuran Kerikilan, gmS

12


1017-75


-


150


Pasir Sedikit Kerikilan, (g)S

13


1017-79


78,79


40


Kerikil Pasiran, sG

14


1017-81


90,76


100


Lanau Pasiran, sZ


Tabel 2. Hasil analisis 14 contoh terpilih mineral Lembar Peta 1017 Batam – Riau Kepulauan.





Secara umum SiO2 yang tinggi terdapat pada sedimen permukaan dengan tekstur pasir dan tekstur penyerta mulai lanau hingga kerikil dengan kandungan SiO2 74,54 - 90,76% dan Sn 10 – 150 ppm. Sebagai indikator awal, kandungan tersebut memberikan harapan bila analisis dilakukan pada sedimen hasil pemboran, maka kandungan tersebut akan jauh lebih tinggi.








Gambar 3. Histogram perbandingan kandungan SiO2 dan Sn pada 14 contoh terpilih Lembar 1017 Batam – Riau Kepulauan.

Analisis Fotomikrograf



Analisis mineral pada fotomikrograf adalah identifikasi nilai (persentase) kenampakan permukaan sayatan mineral terhadap luas seluruh permukaan foto yang dianalisis. Hasil analisis tersebut yang bernilai lebih ekonomis bila dibandingkan dengan nilai pasir lautmemperlihatkan kenampakan mineral yang dominan, yaitu: kuarsa, kasiterit (timah) dan mineral berat (magnetit dan limonit).Umumnya contoh yang dipilih untuk analisis fotomikrograf adalah sedimen yang keras dan padat; saat sampling dilakukan ujung gravity core rusak karena menyentuh batuan yang keras, padat dan butiran berukuran pasir – kerikil dan dominan mengandung butiran kuarsa. Diperkirakan batuan keras dan padat tersebut adalah tubuh batuan granit yang mendasari seluruh perairan P. Batam dan sekitarnya yang kaya dengan potensi kuarsa, timah dan mineral berat. Umumnya fotomikrograf memperlihatkan kasiterit berdampingan dengan kuarsa dan dikelilingi oleh mineral dan fragmen sebagai penyerta, yaitu: magnetit, limonit, fragmen batuan dan cangkang.

Kasiterit dan Kuarsa

Pada fotomikrograf LP 1017-15 yang berlokasi di bagian timur P. Bintan memperlihatkan kasiterit berwarna abu-abu hingga putih terang, anistropic dan translusen pada bagian luar butiran dengan kenampakan sebesar 5,5% dari seluruh luas fotomikrograf. Kasiterit dikelilingi oleh fragmen butiran yang lebih besar yang berasal dari butiran batuan yang lepas dan lapuk. Kasiterit juga berada diantara butiran kuarsa dan fragmen batuan (Foto 1).

Magnetit dan Limonit

Hampir seluruh permukaan fotomikrograf memperlihatkan kehadiran mineral berat dari jenis magnetit dan limonit serta fragmen batuan dan material organik (cangkang kerang dan fosil) walaupun dalam jumlah yang terbatas.Kenampakan magnetit 16,4% dari seluruh luas fotomikrograf, warna abu-abu kecoklatan, isotropic, sebagian hadir sebagai butiran bebas, sebagian yang berbutir lebih halus terikat dalam fragmen batuan. Sedangkan kenampakan limonit 32,9% dari seluruh luas fotomikrograf, warna abu-abu keruh, sebagian berikatan dengan fragmen batuan. Namun perbedaan antara magnetit dan limonit adalah pada warna, sedangkan persamaan adalah sama-sama berikatan dengan fragmen batuan.Kenampakan magnetit dan limonit pada fotomikrograf memerlukan kajian dan analisis yang lebih mendalam mengingat mineral-mineral tersebut merupakan mineral berat yang menjadi penciri batuan volkanik. Namun kehadiran mineral-mineral tersebut dapat memberikan indikasi awal kemungkinan batuan sumber berasal dari daratan P. Sumatera yang sebelumnya mengalami kegiatan volkanisme dan kemudian diendapkan ke laut melalui sungai-sungai di sekitar daerah penelitian.Untuk mendapatkan kondisi geologi bawah permukaan (batuan dasar, mineral dan struktur) dipergunakan hasil data rekaman seismik. Pada lintasan L-69 yang terletak di bagian barat P. Batam dengan arah barat-timur memperlihatkan beberapa satuan batuan dan struktur geologi. Kedua satuan batuan tersebut adalah: batuan dasar (basement acoustic) dan sedimen kuarter (Gambar 4). Sedangkan struktur geologi berupa patahan yang berkembang pada sedimen Kuarter dan batuan dasar.




Gambar 4. Interpretasi kondisi geologi bawah permukaan (batuan dan mineral) berdasarkan rekaman seismik pantul Lintasan L-69 (Barat – Timur) LP-1017.



Diskusi



Hasil interpretasi seismik menunjukkan sedimen Kuarter merupakan reservoar bagi mineral-mineral ekonomis (kuarsa, timah dan mineral berat). Diperkirakan bahwa batuan dasar di daerah penelitian adalah batuan granit yang merupakan salah satu batuan sumber dari mineral-mineral kuarsa, timah dan mineral berat. Batuan sumber lainnya adalah batuan vulkanik yang terdapat di beberapa pulau-pulau, seperti P. Sumatera, P. Batam dan P. Bintan, walaupun kepastian mengenai batuan sumber tersebut masih perlu dilakukan penelitian yang lebih detail lagi. Struktur geologi patahan yang berkembang terjadi pada sedimen kuarter dan batuan dasar (basement acoustic). Untuk menjelaskan tentang perkembangan struktur patahan di daerah penelitian perlu memahami beberapa perioda tektonik sejak terbentuknya batuan granit pada Trias hingga periode tektonik paling akhir pada Plio-Pleistosen. Struktur patahan tersebut memberi indikasi tentang kondisi batuan yang telah mengalami gejala tektonik regional yang telah berlangsung lama dan teraktifkan kembali. Struktur geologi yang masih terlihat hingga ke sedimen permukaan juga memberikan indikasi bahwa kondisi batuan telah mengalami pemadatan dan kompaksi yang tercermin pada butiran-butiran telah mengalami sementasi. Pada sedimen Kuarter mineral timah, magnetit, limonit (mineral berat) dan kuarsa secara umum terdapat dalam sedimen berbutir kasar (pasir – kerikil) dengan butiran penyusun utama adalah mineral kuarsa. Kandungan mineral tersebut pada beberapa analisis kimia dan petrografis memberikan harapan jika dilakukan pemboran lebih dalam di daerah-daerah yang prospek, maka kandungan mineral logam akan lebih besar dibandingkan hasil analisis pada sedimen permukaan. Hal ini karena mineral-mineral logam dengan berat jenis yang lebih besar mempunyai kecenderungan diendapkan pada lapisan sedimen yang lebih dalam.Bila perizinan hanya semata-mata untuk penambangan pasir laut (golongan C), maka cadangan dan ketersediaan mineral nasional akan ikut terkuras tanpa memberikan masukan dalam artian ekonomi kepada negara. Oleh sebab itu, perlu langkah perhitungan secara ekonomis mineral-mineral pada perizinan penambangan pasir laut di perairan P. Batam. Langkah yang perlu dilakukan adalah penetapan daerah-daerah konservasi mineral dan daerah-daerah dengan perizinan penambangan mineral ekonomis tertentu. Untuk itu perlu dibuat zona-zona konservasi mineral-mineral yang bernilai ekonomis, sehingga dalam pemberian perizinan penambangan pasir laut harus memperhatikan keekonomian dari mineral-mineral tersebut.

KESIMPULAN

Potensi mineral kuarsa, timah dan mineral berat dalam sedimen dasar laut cukup besar. Hasil analisis kimia sebagai identifikasi data awal memperlihatkan kandungan timah (Sn) berkisar antara 10 – 150 ppm. Sedangkan kuarsa (Si02) dengan kandungan di atas 66% dan tertinggi 90,76%. Apabila eksplorasi dilakukan pada daerah-daerah dengan konsentrasi kandungan Si02 dan Sn yang lebih besar dengan pemboran, maka kandungan tersebut akan lebih besar lagi. Oleh sebab itu dalam pemberian perizinan Kuasa Pertambangan (KP) pasir laut, kandungan mineral-mineral tersebut perlu menjadi pertimbangan secara ekonomis. Dengan demikian diharapkan cadangan mineral-mineral ekonomis akan dapat memberikan manfaat terhadap pembangunan daerah dan nasional.

Saran
Potensi tersebut perlu kajian penetapan zonasi mineral-mineral ekonomis, sehingga pemberian perizinan Kuasa Pertambangan (KP) pasir laut memperhatikan potensi mineral-mineral kuarsa dan timah yang jauh lebih tinggi nilai ekonominya.

UCAPAN TERIMA KASIH





Terima kasih disampaikan kepada Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Bpk. Ir. Subaktian Lubis, M.Sc atas dorongan dan pimpinannya. Terima kasih juga disampaikan kepada Ir. Dida Kusnida, M.Sc. pada saat menjadi Korkel Penelitian Dasar dan Pemetaan Geologi Kelautan memberi kesempatan kepada penulis untuk menjadi Kepala Tim LP-1017 dan Lili Sarmili, M.Sc. atas koreksi dan saran-sarannya. Tak lupa terima kasih kepada Kepala Tim Ir. Ediar Usman, MT atas kerjasamanya sehingga terciptanya paper ini, Anggota Tim LP-1017 lainnya (IKG. Aryawan, Luli Gustiantini, Yani Permanawati, Novi Sutisna, Subarsyah dan Hartono) atas segala kerjasamanya, baik pada saat pengambilan maupun pengolahan data.


DAFTAR PUSTAKA



Cobing, EJ., 1992, The granite of the South-Easth Asian Tin Belt, British Geological Survei, London.Folk, R.L., 1980, Petrology of Sedimentary Rocks, Hamphill Publishing Company Austin, Texas. 170 P.

Priyono, A., 2000, Kumpulan Bahan-Bahan Kuliah Interpretasi Geologi Seismik - Program Pascasarjana (S2) ITB, Bandung, tidak dipublikasikan. Sangree, JB. and JM. Wiedmier, 1979, Interpretation Facies from Seismic Data, Geophysic 44, N.2, p.131.

Sherif, RE., 1980, Seismic Stratigraphy, International Human Resources Development Corporation, Boston, P.222.
Usman, E., Setyanto, A., Gustiantini, L., Permanawati, Y., Aryawan, IKG., Subarsyah dan Hartono, 2005, Penelitian Geologi dan Potensi Energi dan Sumber Daya Mineral Bersistem (LP-1017) Batam – Riau Kepulauan, Lap. Intern PPPGL, tidak dipublikasikan.




Lampiran: Deskripsi Fotomikrograf









No Foto 1
Jenis Foto : Mikrograf.
Nikol : Sejajar (200 x).
No. Sampel : LP 1017-15.

1 A-E Butiran kuarsa (Q), abu-abu pucat membentuk butiran.
3 D, 4-5 D Kasiterit (CS) 5,5%, warna putih terang, anisotropic, translusen pada bagian luar butiran.
1-6 F-H &3-6 A - C Magnetit (M) 16,4%, warna abu-abu kecoklatan, isotropic, sebagian hadir sebagai butiran bebas, sebagian yang berbutir lebih halus terikat dalam fragmen batuan.
1-6 F-H &3-6 A - C Limonit (L) 32,9%, warna abu-abu keruh, sebagian berikatan dengan fragmen batuan
4 G Mineral/material yang lain terdiri-dari fragmen batuan, kuarsa dengan ukuran lebih halus dan material organik (cangkang kerang dan fosil.