Sabtu, 13 Juli 2013

CIREMAI, HALAMAN RUMAH KAMI

Original written by Nuansa Bayu Segara



CIREMAI, HALAMAN RUMAH KAMI

Kota Cirebon memiliki landscape yang cukup bervariasi dan menawan. Landscape yang sangat menjadi perhatian di sekitar wilayah Kota Cirebon adalah menjulangnya gunung tertinggi di Jawa Barat, Ciremai. Gunung ini menjulang gagah, berdiri mengangkasa seperti pemeran tunggal dalam landscape yang tampak di selatan Kota Cirebon. Ketinggian gunung ini mencapai 3078 mdpl sehingga ketika dilihat dari pesisir utara Pulau Jawa yang relatif landai seperti Kota Cirebon, menjadi tampak seperti raksasa besar yang sedang tertidur. Keindahan Gunung Ciremai tidak hanya karena tingginya saja, melainkan lekukan ornamen-ornamen seni alam yang luar biasa ditambah dengan vegetasi hutan hujan tropis yang menyelimuti sekeliling lerengnya. Meskipun sangat jelas terlihat dari wilayah Kota Cirebon, secara administrasi gunung ini masuk kedalam wilayah Kab. Kuningan dan Kab. Majalengka.
Gunung Ciremai termasuk gunungapi vulkanik dengan tipe strato, secara geologi gunung ini terbentuk karena adanya tumbukan lempeng teknonik yang terjadi di selatan Pulau Jawa. Gunung Ciremai terlihat memberi kedamaian bagi yang melihatnya, namun sebenarnya gunung ini masih menyimpan bahaya yang luar biasa karena Ciremai merupakan gunungapi aktif yang suatu saat siap meletus. Masyarakat di sekitar Gunung Ciremai mungkin masih terhanyut dengan keberkahan yang diberikan Ciremai pada mereka, namun keberkahan yang diberikan Tuhan melalui Gunung Ciremai itu harus tetap diiringi rasa kesiapsiagaan terhadap bencana gunung meletus.
Pada tahun 2002 Gunung Ciremai dipertegas status hukumnya dengan dijadikannya gunung ini sebagai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Hal ini dilakukan untuk melindungi variasi flora dan fauna yang sangat bervariasi disekitar wilayah gunung ini, dan menjaga fungsi alami Gunung Ciremai bagi keseimbangan alam di wilayah sekitarnya. Status sebagai TNGC ini mengubah pengelolaan Gunung Ciremai yang tadinya tidak teratur menjadi teratur dengan Perhutani bermitra dengan masyarakat.
Kemenarikan Gunung Ciremai tidak hanya dilihat dari sisi alamiah saja, namun satu sisi non alamiah, tidak bisa lepas dari keberadaan gunung ini. Beberapa mitos mengiringi gunung Ciremai, dalam babad Cirebon diceritakan bahwa Wali Songo yang menyebarkan agama islam di Pulau Jawa beberapa kali mengadakan rapat di puncak Gunung Ciremai, tentu disana diceritakan bahwa Wali Songo tiba di puncak gunung tidak mendaki, melainkan dengan cara-cara yang luar biasa, seperti terbang atau sekejab sudah langsung berada disana.
Gunung Ciremai sudah sangat sering didaki, seringkali pendakian di Gunung Ciremai menelan korban jiwa. Pendaki yang meninggal saat pendakian sangat sering terjadi, dan pendaki yang hilang saat melakukan pendakian sudah beberapa kali terjadi, bahkan pesawat latih yang jatuh di sekitar lereng Gunung Ciremai sampai saat ini belum ditemukan bangkainya. Sebenarnya mendaki Gunung Ciremai tidak boleh dianggap remeh, memang dalam keadaan cuaca yang cerah pendakian dapat dilakukan satu hari, namun cuaca yang cepat berubah-ubah diatas gunung dapat menjadi masalah ketika persiapan yang dilakukan tidak matang dan melalaikan unsur-unsur keselamatan. Pendakian ke Gunung Ciremai dapat melalui tiga jalur pendakian, Linggarjati dan Palutungan dari Kab. Kuningan dan Apuy dari Kab. Majalengka. Saya dan istri berkesempatan mendaki dari jalur Palutungan didampingi empat orang mahasiswa.












Cirebon-Palutungan
Perjalanan dari Cirebon ke Palutungan dapat ditempuh dengan berbagai cara, untuk pendaki dari Jakarta yang turun di Stasiun Kejaksan dapat menggunakan taksi gelap yang langsung menuju palutungan tentu dengan ongkos yang lumayan tinggi. Jika ingin menggunakan anggutan umum maka dimulai di terminal harjamukti dengan menggunakan Elf jurusan Cirebon-Cikijing yang ditempuh dengan waktu 1 jam turun di pemandian Cigugur. Setelah itu dilanjutkan dengan angkutan pedesaan yang berwarna putih Jurusan Desa Cisantana Kampung Palutungan. Setelah itu dilanjutkan dengan melapor kepada pihak TNGC di Resort Cigugur dan membayar administrasi asuransi. Kami sendiri menggunakan sepeda motor untuk mencapai resort Cigugur dan menitipkan kendaraan kami pada petugas resort tersebut yang bernama Pak Nana.

Palutungan-Cigowong
Perjalanan dilanjutkan menuju pos Cigowong, untuk menuju pos ini yang pertama dilalui adalah pemukiman warga dengan jalanan aspal yang cukup menanjak, selanjutnya akan dijumpai beberapa kandang sapi warga sebelum memasuki perkebunan sayur-sayuran. Setelah melewati perkebunan pendaki akan disambut oleh pos selamat datang di sisi hutan pinus. Selepas pos selamat datang pendaki akan melewati dua blok hutan pinus yang dikelola oleh perhutani dengan jalan yang relatif landai diselingi beberapa tanjakan. Setelah melalui hutan pinus pendaki akan menjumpai vegetasi ilalang yang cukup tinggi dan diselingi beberapa wilayah bervegetasi sejenis petai cina yang lebat. Setelah vegetasi ilalang dilalui, pendaki akan menjumpai vegetasi pisang yang cukup banyak, lalu disambut dengan hutan hujan tropis yang belum begitu lebat. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Cigowong sekitar 2 jam. Pos Cigowong menyediakan gazebo dan toilet dengan air yang melimpah. Pos ini sangat kondusif untuk dijadikan tempat camping sebelum melanjutkan perjalanan. Kalau pendakian dimulai selepas dzuhur dari palutungan, disarankan agar bermalam di pos ini karena disinilah pendaki bisa mendapatkan air terakhir sebelum menuju puncak. Malam di Cigowong tidak dilalui begitu saja, cuaca yang buruk akan membuat udara di pos ini sangat dingin, sehingga jika ingin kenyamanan saat tidur dibutuhkan sleeping bag dan jaket yang tebal.

Cigowong-Arban
Pagi sekali kami bersiap menuju pos selanjutnya, packing dan menyiapkan sarapan kami lakukan dengan cepat. Kami menyiapkan dua kompan dan 6 botol air saku untuk perjalanan selanjutnya. Selepas pos cigowong pendaki akan melewati sungai yang jernih dengan air melimpah, selanjutnya perjalanan akan melewati hutan hujan tropis yang gelap dan diselingi dengan kabut yang kadang turun menghampiri kami. Pos bayangan yang dilalui cukup banyak, karena jalanan yang disediakan sangat terjal sehingga terkadang perlu menggunakan tangan-tangan kita untuk memegang akar pohon untuk mendaki. Pos terdekat dengan Cigowong adalah Kuta, selepas kuta kita dapat melihat beberapa burung yang hinggap di pepohonan. Amper adalah pos bayangan selanjutnya, selepas Amper kita mendengar suara burung hantu yang mengiringi langkah kaki, selanjutnya pos Pangguyangan Badak, dalam perjalanan dari pos ini menuju arban kami sempat melihat beberapa jejak babi hutan, vegetasi selama perjalanan berupa semak belukar yang lebat tentu dibawah hutan hujan yang sangat basar dan lembab. Perjalanan menuju Arban sangat terjal, waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Pos ini sekitar 3 jam.

Arban-Pasanggrahan
Setelah Arban perjalanan dilanjutkan dengan berpengangan pada akar-akar pohon karena tangga alami yang terbuat dari rangakaian akar pohon itu semakin tinggi. Tidak jarang kabut menyelimuti pandangan, namun selama masih jalalan terlihat, perjalanan kami teruskan. Sebelum Pasanggrahan kami menemukan beberapa pos, salah satunya Tanjakan Asoy. Selepas Tanjakan Asoy track yang dilalui sangat terjal hampir tanpa bonus, setelah tanjakan asoy pos peristirahatan selanjutnya Kabuyutan. Vegetasi yang dilewati sepanjang jalan pos ini relatif sama, hutan hujan tropis yang lebat dengan pohon-pohon besar yang diselimuti oleh lumut-lumut yang lembab, sinar matahari dapat dikatakan tidak menembus sampai ke tanah. Setelah menelusuri jalan setapak yang terjal selama 1,5 jam, kami tiba di Pasanggrahan. Tepat tiba di Pasanggrahan waktu menunujukan waktu makan siang, sehingga kami mempersiapkan makan siang lalu melanjutkan perjalanan.

Pasanggrahan-Sanghiang Ropoh
Selepas Pasanggrahan perjalanan kami lanjutkan dengan track yang relatif sama, terjal. Sekitar 1 jam perjalanan, kami menjumpai vegetasi yang mulai berbeda, hutan yang tampak di mata kami adalah hutan yang di isi oleh pepohonan berdaun jarum. Pepohonan yang menghiasi jalur ini memiliki ukuran yang besar, keindahan pepohonan ini diikuti dengan derap langkah kami dan hembusan angin yang diselimuti kabut dingin. Tidak jarang tumbuhan arbei kami temukan, rasanya asam, karena memang jarang sekali kami temukan buah arbei yang sudah benar-benar matang. Sesampainya di Sanghiyang Ropoh kami melihat suasana yang sangat berbeda, dengan ketinggian diatas 2500 mdpl vegetasi yang nampak memiliki karakter yang khas, sesuai dengan pembagian iklim Jung Hun yang membagi iklim dan vegetasi berdasarkan ketinggian, tumbuhan yang kami temui di ketinggian ini adalah tumbuhan paku termasuk bunga abadi Edelweis.

Sanghiyang Ropoh-Gua Walet
Track yang dilalui selepas Sanghiyang Ropoh sangat berbeda, vegetasi yang didominasi tumbuhan paku membuat matahari bebas masuk, dan pelapukan tanah di area ini tidak terjadi, sehingga track yang dilalui berupa rentetan batuan beku vulkanik. Jalanan yang dilalui sangat terjal, sehingga perlu kehati-hatian dari pendaki terutama yang membawa beban cukup berat, karena keseimbangan harus terus diperhatikan, dapat dikatakan untuk melalui track ini kami memanjat batu. Sebenarnya jarak yang dibutuhkan untuk sampai ke Gua Walet tidaklah jauh, namun karena medan yang sangat berat, pendakian membutuhkan waktu yang sangat lama. Setelah 30 menit kami mendaki track berbatu yang terjal itu, hujan turun cukup deras, sehingga memaksa kami untuk berteduh dengan mendirikan tenda secepat kami bisa. Ketinggian yang cukup tinggi dengan cuaca yang buruk membuat udara yang kami rasakan sangat dingin, sehingga kami memutuskan memasak air dalam tenda. Setelah beberapa saat kami berteduh hujan pun berhenti. Cuaca di puncak gunung memang sangat cepat sekali berubah, hal tersebut dipengaruhi penyinaran matahari yang membuat tekanan udara di puncak dan di lembah berubah-ubah dengan cepat. Sehingga awan hasil evaporasi dari tumbuhan yang ada di hutan sangat cepat terbawa angin yang dipengaruhi oleh suhu antara puncak dan lereng gunung.
Kami bersiap-siap dengan membereskan tenda kami, begitu siap kami lanjutkan perjalanan, matahari mulai menampakan cahayanya, kondisi seperti ini membuat kondisi kami lebih nyaman, dan alam pun memberikan hadiah untuk kami, pelangi. Kami melihat pelangi yang sangat indah di sebelah timur kami, perpaduan warna yang cantik dilengkapi oleh bunga edelweis yang masih kuncup membuat kami lebih bergairah untuk sampai ke puncak. Istriku mengatakan itu adalah pelangi terindah dan terdekat yang pernah dia lihat, doubel rainbow. 30 puluh menit kemudian kami tiba di persimpangan antara menuju puncak dan Gua Walet. Akhirnya kami putuskan untuk menuju Gua Walet, karena untuk sampai langsung menuju puncak kondisi cuaca puncak yang kami amati tidak memungkinkan.
Gua Walet merupakan gua yang terbentuk dari batuan beku dalam, gua ini diprediksi merupakan kawah yang telah meletus dan tidak aktif lagi. Ketika musim kemarau biasanya gua ini tidak memiliki cadangan air, namun karena kemarin malam turun hujan, sehingga air yang tersedia di Gua Walet saat itu relatif cukup untuk pendaki yang bermalam di sekitar Gua Walet. Malam menjelang begitu cepat, udara dingin sangat cepat menusuk tubuh kami, namun sekali lagi alam memberikan hadiah pada kami, hamparan bintang-bintang tampak dari lubang Gua Walet ini, ditambah terang bulan yang membuat perpaduan khas langit malam, cerah, berbintang-bintang dan dingin menusuk.

Puncak Ciremai 3078 mdpl
Kami bangun pagi-pagi sekali, selain karena ingin cepat sampai menuju puncak, udara yang sangat dingin membuat tidur kami tidak nyenyak. Setelah melakukan sholat shubuh, kami mempersiapkan diri untuk summit attack. Perjalanan yang kami lalui relatif lebih terjal dibandingan dengan jalur yang kemarin kami lalui, namun karena kami tidak membawa tas keril berat kami dengan mudah melalui jalur menuju puncak. Kurang dari 30 menit kami tiba di Puncak Ciremai, yang kami lihat pertama kali adalah besarnya 2 kawah Ciremai yang masing mengeluarkan asap belerang. Pemandangan yang dapat kami lihat saat itu adalah Gunung Selamet yang ada di timur, gunung Cikurai dan guntur yang ada di selatan, serta keindahan Waduk Darma dan Situ Sangiang yang ada di Majalengka membuat keindahan alam yang luar biasa. Tidak begitu lama kami berada di puncak hal itu dikarenakan udara yang sangat dingin dan hembusan angin yang sangat kencang, setelah meminum air hangat dan memakan snack, kami putuskan kembali ke Gua Walet.
Setiba kami di Gua Walet kami melakukan packing seluruh peralatan, menyiapkan air saku dan berdoa sebelum turun. Perjalanan turun relatif mudah, kami lakukan dengan cukup cepat, namun kaki yang menahan beban tubuh plus ceriel yang kami pikul membuat kaki kami menahan beban lebih berat saat mendaki ke puncak. Sekitar 7 jam perjalanan turun kami lakukan. Sampai akhirnya di Resort Cigugur kami tiba pukul 16.00 dan kembali melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing.
Ciremai halaman rumah kami, dari jauh kami dapat pandangi Ciremai yang indah mengukir angkasa, dari Ciremai kami dapat memenuhi kebutuhan air kami, sehingga wajib kita jaga kelestarian hutan hujan tropisnya dan semua fauna yang ada disana. TNGC, harus terus dijaga keasriannya karena itu halaman rumah kami.
 

7 komentar:

Anonim mengatakan...

Bagussd euyy aslina...ke saya terbitkan blog ah...sy ge tertarik ngeblogger

aby swara mengatakan...

kalo bisa ajak2 muncaknya mbak bisa kontak di 082116965653 ato pin bb 27692829. buat info juga tmen2 dsni mbak, makasih

Putri Jennia Fasa mengatakan...

hatur nuhun, muhun atuh mangga diterbitkeun catatan perjalanana ...

hehe ... insya allah ... lebih asyik lagi muncak bareng sahabat2 dekat :)

Ganjar setiawan mengatakan...

kapan saya kesana yaaaa

Putri Jennia Fasa mengatakan...

Kapan hayo jaaaaar heheh jangan sejuta rencana aja. Ayo kumpulin duit. Kita mau mahameru nih

Putri Jennia Fasa mengatakan...

Kapan hayo jaaaaar heheh jangan sejuta rencana aja. Ayo kumpulin duit. Kita mau mahameru nih

Putri Jennia Fasa mengatakan...

Kapan hayo jaaaaar heheh jangan sejuta rencana aja. Ayo kumpulin duit. Kita mau mahameru nih