Minggu, 09 November 2008

4. Agama dan Kode perilaku

Sebagaimana dari pekerjaan berpengaruh awal terhadap hubungan antara agama dan pembangunan disajikan oleh Weber, yang mengusulkan bahwa pengendali terbesar dunia industri di Eropa dating dari katolik ortodok. Baru-baru ini vogel telah mengajukan pengendali besar untuk industrialisasi Asia Timur dalam beberapa tahun terakhir dimana perdaganagn dan perniagaan telah benar-benar berkembang dalam pusat tradisis Confucian ortodok.

Opini berbeda secara luas tentang peran agama bisa memainkan factor, baik yang positif atau negative, dalam pembangunan. Seperti Confucianism, banyak penulis mempertimbangkan ini sebagai kunci kepada pemahaman sukses ekonomi Asia Timur. Denagn begitu, di Singapura kesuksesan ekonomi dari orang-orang Cina disana menerangkan dalam kaitan dengan Confusianism, menekankan pada kualitas sebagaimana keyakinan kerja keras dan sikap baik pada orang tua. Cerminan Weber tahun 1958 argumentasi susila protestan untuk Eropa Barat pada awal revolusi industri. Itu adalah argumentasi bahwa Confucianisme menanamkan nilai seperti kerja keras, penghematan, pencapaian gol, kesetiaan keluarga, dll, yang menyiapkan orang untuk perilaku efektif di ekonomi pasar (Gourcvitch 198 : 1). Dan Downton meyakinkan masyarakat itu dengan Confucian-Buddhist yang mengakar terbukti lebih efektif dengan tantangan industri dan teknologi menjelang abad ke dua puluh satu dibandingkan …. Negara-negara itu dengan satu sebagian besar Kristen tradisi Hebraic (dikutip dalam Winchester 1991 : 61). Komentar serupa telah disampaikan tentang dunia muslim. (kotak 3.2). Di sisi lainnya, beberapa pandangan tampak mengabaikan dua fakta. Salah satunya adalah bahwa hanya empat puluh tahun yang lalu itu Confucianism secara luas dianggap sebagai satu factor penghalang menjelaskan kekurangan kemajuan ekonomi Asia Timur. Selain itu, diatas skala global, masyarakat dan ekonomi secara tepat ‘sebagian besar tradisi Christian Hebraic yang telah membuat sebagian besar kemajuan dalam menuju tantangan industri dan teknologi menjelang abad ke dua puluh satu.

PERKEMBANGAN AJARAN CONFUCIUS

Setelah Confucius Meninggal Dunia

Setelah Confucius meninggal dunia pada tahun 479 SM, maka perkembangan
ajaran Confucius diteruskan oleh murid-muridnya, yang seluruhnya berjumlah
kurang lebih 3000 orang. Di antara mereka terdapat 72 murid utama yang
paling menonjol, sehingga dijuluki ` 72 orang bijak '. Terdapat cukup banyak
murid-muridnya tersebut yang memangku jabatan tinggi di pemerintahan.
Golongan terpelajar yang mengikuti ajaran Confucius ini membentuk suatu
aliran intelektual yang disebut " Ru Jia " (Golongan Terpelajar).

Di dalam perkembangan Ru Jia ini, tercatat beberapa tokoh yang memegang
peranan cukup penting dalam meneruskan tradisi ajaran Confucius, yaitu Cheng
Se (483 - 402 SM), Mencius (Beng Zi 371 - 289 SM), dan Hsun Zi (298 - 238
SM). Yang paling menonjol adalah Mencius dan Hsun Zi. Pandangan mereka
sedikit berbeda dalam menanggapi masalah kehidupan berdasarkan sifat sejati
manusia [Jen Sing]. Dalam kitab Lun Yu XVII/2 dikatakan, " Watak sejati itu
saling mendekatkan, kebiasan saling menjauhkan". Ini berarti setiap manusia
sudah membawa serta kodrat (karma dalam pengertian Buddhisme) masing-masing;
apakah kodratnya yang dibawa sejak lahir itu baik atau buruk akan menentukan
tingkah laku seseorang dalam pendidikan dan pergaulan di kemudian hari, yang
mana akan mempengaruhi kepribadian orang tersebut.

Di dalam menanggapi hal demikian, terdapat perbedaan antara Mencius dan Hsun
Zi. Menurut pandangan Mencius pada dasarnya sifat sejati manusia (Jen Sing)
yang dibawa sejak lahir adalah baik. Ini terbukti pada umumnya manusia
mempunyai rasa iba terhadap anak kecil, manusia senang akan perdamaian dan
manusia bila saling bertemu dengan kenalannya suka menampilkan senyumnya.
Manusia dapat menyempurnakan sifat sejatinya (Jen Sing) dengan berusaha
memupuk sifat-sifat mulia lainnya, yaitu : Jen, I, Li, Chih, Hsin dan
menjadi manusia yang sempurna budi pekertinya (C'un Zi). Selain itu, faktor
pendidikan dan pergaulan memegang peranan yang cukup penting juga khususnya
dalam pembentukan karakter dan budi pekerti manusia.

Hsun Zi berpandangan bahwa pada dasarnya sifat sejati manusia (Jen Sing)
yang dibawa sejak lahir adalah buruk atau tidak baik adanya. Manusia belum
seluruhnya meninggalkan sifat-sifat buruk primitifnya. Manusia masih
memiliki naluri yang kuat untuk makan bila lapar, minum bila haus, mencari
tempat yang hangat bila kedinginan, beristirahat bila letih. Naluri-naluri
tersebut mempunyai sifat buruk. Namun, sifat buruk tersebut dapat diubah
dengan pendidikan budi pekerti, sehingga manusia dapat berubah menjadi
beradab dan baik. Demikian juga dengan pengetahuan mengenai kesusasteraan
dan kesenian (musik) akan menghadirkan manusia-manusia yang dapat menghayati
nilai kesejatian hidup ini. Walaupun demikian, Mencius dan Hsun Zi
sependapat, bahwa karakter dapat dibentuk melalui pendidikan. Oleh karena
itu, menurut ajaran Confucius, nilai pendidikan bagi seseorang amatlah
penting. Hal inilah yang mereka terapkan selama berabad-abad dalam rangka
pembentukan karakter manusia.

Setelah melewati periode pasang surut selama abad ke-3 SM, Confucianisme
akhirnya mulai berkibar kembali selama dinasti Han (206 SM-tahun 220). Karya
para Confucianis, dimana salinannya sempat dimusnahkan sebelum periode
tersebut, disalin kembali dan diajarkan oleh para cendekiawan di berbagai
akademi nasional. Karya-karya tersebut kemudian juga ditetapkan sebagai
suatu syarat ujian negara untuk dapat memangku jabatan ketatanegaraan. Para
calon pegawai yang akan ditempatkan dalam jabatan pemerintahan, haruslah
memperlihatkan penguasaan pengetahuannya terhadap literatur klasik tersebut.
Sehingga, paham Confucianisme menduduki posisi yang sangat mempengaruhi
kehidupan politik dan intelektual China saat itu.

Kesuksesan pengajaran Confucianisme pada masa dinasti Han terutama atas jasa
dari Tung Chung-shu, yang pertama merekomendasikan sistim pendidikan harus
dibina berdasarkan ajaran Confucius. Tung Chung-shu mempercayai bahwa
kedekatan hubungan antara sifat sejati manusia dan alam; yakni perbuatan
manusia dapat mempengaruhi berbagai fenomena di alam semesta. Segala bencana
alam dapat dipandang sebagai suatu peringatan terhadap manusia karena
perbuatannya yang melanggar sila. Hal ini menciptakan ketakutan terhadap
Yang Maha Kuasa dimana dengan kekuasaanNya, memiliki kekuatan yang tidak
terbatas (omnipotent).

Dalam situasi kekacauan politik setelah runtuhnya dinasti Han, paham
Confucianisme dibayangi dua ajaran filsafat yang juga sama-sama berkembang
saat itu, yaitu Taoisme dan Buddhisme. Walaupun begitu, karya-karya klasik
Confucius tetap merupakan sumber utama bagi para pelajar saat itu, dan
dengan dimulainya masa perdamaian dan kemakmuran dalam dinasti Tang
(618-907), penyebaran Confucianisme makin dipacu. Monopoli pengajaran yang
dipegang oleh para pengikut Confucius, sekali lagi menjadikan paham ajaran
ini menduduki posisi birokrasi yang tinggi, sebagai suatu ajaran negara
dengan sistim ortodok.

http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/1241